IBADAH MINGGU KE-3 SET TRINITATIS
Tema:
MENGIKUT YESUS DAN MEMIKUL SALIB
Ev: Matius 10:32-39
Ep: Yeremia 20:7-13
10:32 Setiap orang yang
mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang
di sorga.
10:33 Tetapi barangsiapa
menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku
yang di sorga."
10:34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk
membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan
pedang.
10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari
ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
10:37 Barangsiapa
mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan
barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia
tidak layak bagi-Ku.
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut
Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan
memperolehnya.
--------------
Shalom, selamat hari minggu
saudara/i yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Sukacita rasanya
masih bisa menyapa saudara/i ku walau hanya lewat media renungan ini. Tidak
seorangpun di antara kita yang tahu berapa lama lagi umur kita di dunia
ini. Siapa yang lebih dahulu dipanggil
juga kita tidak tahu, namun semua kita pasti akan menghadap Sang Pencipta. Saat
itu akan nyata bagi kita saat penghakiman
itu tiba. Di sana nanti akan jelas bagaimana akhir hidup kita, apakah
kita akan tetap hidup atau kehilangan nyawa kita. Semua tergantung iman dan
kesetiaan kita dalam mengikut Tuhan.
Ibadah minggu ini, yaitu minggu
ke tiga setelah TRINITATIS bertemakan MENGIKUT YESUS DAN MEMIKUL SALIB yang di
dasarkan pada kitab Matius 10:32-39.
Perikop ini akan menolong dan memberikan kita penjelasan tentang
bagaimana Mengikut Yesus dan memikul salib sebagai orang percaya yang
benar-benar sebagai pengikut Yesus.
Saudara, keberanian untuk
mengaku dan bersaksi akan siapa Yesus di hadapan dunia ini menunjukkan
keseriusan dan konfirmasi yang sesungguhnya sebagai pengikut Yesus. Kekonsistenan mengikut Yesus dengan segala
resiko yang akan ditanggung akan membuktikan bahwa seseorang itu benar-benar
pengikut Yesus. Keberanian untuk bersaksi itu
pasti akan menuntut pengorbanan dalam berbagai hal, bahkan sampai kepada
pengorbanan yang paling tinggi yaitu kehilangan nyawa, baik diri sendiri
ataupun orang-orang yang kita kasihi.
Kita mungkin masih mengingat kisah NOKSENG seorang suku
GARO dari desa Assam di daerah Timur Laut India, sekaligus latar belakang
lagu: MENGIKUT YESUS KEPUTUSANKU. Saudara bisa menemukan cerita lengkapnya di
internet dengan mengetikkan sejarah lagu “Mengikut Yesus Keputusanku ku tak
ingkar”.
Ketika Nokseng diancam bahwa
suku itu akan memenggal kepala istri Nokseng jika tidak menyangkal Yesus serta
meninggalkan Yesus, Nokseng berkata bahwa “Mengikut
Yesus keputusanku, ku tak ingkar-ku tak ingkar”, Lalu istrinya mati dipenggal.
Lalu anaknya juga diancam akan dipenggal kalau Nokseng tidak mau mengangkal
Yesus. Tetapi Nokseng menjawab: “Tetap ku
ikut walau sendiri, ku tak ingkar-ku tak ingkar”. Setelah nyawa anaknya
melayang, Nokseng diancam akan dipenggal jika masih tidak mau menyangkal Yesus.
Tetapi Nokseng menjawab: “Salib di depan
dunia di belakang, ku tak ingkar- ku tak ingkar”. Lalu Noksengpun di bunuh.
Kisah selanjutnya bisa saudara baca di internet. Ke konsistenan Noksen mengikut
Yesus dan tidak menyangkalnya membuktikan bahwa dia Pengikurt Yesus yang setia
dan siap memikul salib walau nyawa orang-orang yang dikasihinya bahkan nyawanya
sendiri menjadi taruhannya.
Banyak orang mau mengikut Yesus
dengan niat “aji mumpung” cari
enaknya saja, cari selamat, tetapi kalau situasi tidak mengenakkan, kondisi
mulai tidak menguntungkan, mulai merasakan penderitaan atau tidak seperti yang
dia harapkan sebelumnya maka dia akan meninggalkan
Yesus. Ada orang yang mendaftar kepada suatu denominasi gereja tertentu karena
di gerejanya yang lama dia merasa tidak nyaman lagi, merasa tertolak, kurang
diperhatikan, atau tidak dianggap, sehingga dia berharap di gereja yang baru
dia bisa lebih nyaman. Ternyata hasil
tidak sesuai harapan, maka dia akan pindah gereja lagi.
Karena itu setiap orang yang
hanya sekedar cari untung mau mengikut Yesus maka dipastikan dia tidak akan
mendapatkan untung tetapi sebaliknya dia
akan ”malah buntung” (= merugi). Inilah yang disebut kelicikan dalam mengikut
Tuhan. Seandainyapun sepertinya dia mendapatkan untung yang dikejarnya mengikut
Yesus bahkan melayani Yesus, tetapi
sesungguhnya dia tidak akan mendapat dan memiliki apa-apa. Sebab ketika harinya
tiba dia akan kehilangan segala-galanya termasuk nyawanya. Bahkan orang-orang
seperti itu meskipun kelihatannya lebih rohani, lebih banyak beribadah, tetapi sesungguhnya sejak awal
dengan motivasi yang salah mengikut Yesus mereka sudah ditolak Tuhan.
MENGIKUT YESUS HARUS DENGAN KESUNGGUHAN,
KERELAAN DAN KESEDIAAN UNTUK BERKORBAN, karena KRISTEN TANPA PENGORBANAN adalah
tidak mungkin. Demikian juga dari
sisi Allah kita. Apa yang dilakukan Allah untuk menyelamatkan manusia yang
berdosa adalah bentuk pengorbanan. Ketika kita membaca Yohanes 3:16 di situ
kita melihat bahwa Allah bertindak dengan pengorbanan. Baik Bapa di sorga maupun Yesus Kristus
putraNya satu-satunya. Bagaimana pengorbananNya?. Kalau saya bisa
berandai-andai atau mendramatisir
percakapan Allah Bapa dengan Anak (Yesus Kristus) misalnya kira-kira demikian:
BAPA: Saya punya
satu Putra Tunggal yaitu Kamu, Kamu adalah adalah anak yang paling ku kasihi
dan kusayang. Tetapi di bumi ada manusia yang harus di tolong dan diselamatkan.
YESUS: Siapakah mereka Bapa? Apakah mereka orang baik? Orang kudus seperti kita, orang benar, yang
tidak berdosa? Sebegitu spesialnyakah mereka sehingga Bapa harus menolong
mereka?
BAPA: Bukan, mereka
bukan orang baik-baik. Mereka orang-orang berdosa, orang jahat, bahkan sudah
menduakan kita, menyembah ilah-ilah lain, para pembunuh, pencuri, bahkan yang berkata
tidak membutuhkan kita lagi, padahal kitalah pencipta mereka. Tetapi Aku
mengasihi mereka. Aku harus mengutus seseorang untuk menyelamatkan mereka.
YESUS: Bagaimanakah Dia nanti akan menyelamatkan mereka?
BAPA: Dia harus mati menggantikan mereka sebagai upah dari
dosa-dosa mereka. Dia akan menderita hingga mati disalibkan. Dengan demikian
dosa-dosa mereka dhapuskan dan mereka menjadi layak dan dibenarkan di
hadapanku. Dia haruslah yang terbaik dan terbesar dalam kerajaanKu yang bisa
melaksanakan tugas ini.
YESUS: Siapakah Dia yang Bapa akan utus? Besar sekali yang
Bapa korbankan untuk si pendosa itu. Bukankah yang pantas bagi mereka kematian
di neraka?
BAPA: Kamu AnakKu. Kamu adalah yang terbaik yang Kumiliki.
Maukah Kamu Ku utus ke bumi untuk menyelamatkan mereka dan mati bagi mereka?
YESUS: Kalau bisa Bapa utuslah yang lain mengemban tugas
itu, tetapi jangan kehendakKu, kehendakMu-lah yang jadi.
BAPA: Tidak ada yang lain anakKu, Kamulah satu-satunya.
YESUS: Kalau begitu jadilah menurut kehendak Bapa. Firman
Bapa adalah Perintah bagiKu. Apa yang
Bapa kasihi itulah yang Ku kasihi, apa yang Bapa sayangi itulah yang Ku
sayangi. Jika Bapa mau berkorban demi mereka maka Akupun siap berkorban dan
menyerahkan nyawaKu bagi mereka supaya mereka hidup untuk selama-lamanya.
Sekali lagi saudara, saya dalam cerita ini hanya
berandai-andai. Hanya mau menunjukkan betapa Allah kita itu nyata berkorban
demi kita manusia yang berdosa. Bapa mengorbankan anak satu-satunya dan Yesus
Putra Allah satu-satunya rela diriNya sebagai korban demi keselamatan saudara
dan saya.
SAUDARA mengikut Yesus, atau mau
menjadi pelayanNya, atau mau menjadi umat Kristen, jadi anggota gereja GKPI,
HKBP, GBI, GKPS, dan lain sebagainya, KARENA APA?
Ikut-ikutan? Di dorong-dorong? Cari aji
mumpung? Sekedar ASA SUMAN BERENGON (supaya
nampaknya rumah tangga itu pantas di sebut rumah tangga Kristen kalau sudah
terdaftar dalam satu gereja)? Atau
karena memang sudah dilahirkan dalam keluarga Kristen sehingga kitapun harus
menjadi Kristen? Kalau itu menjadi latarbelakang dan alasannya, maka orang yang
berlatar belakang seperti itu tidak akan pernah menjadi pengikut Yesus, dan
Yesus tidak akan pernah mengakuinya sebagai pengikutNya. Segala sesuatu yang
kita harapkan, angan-angankan setelah kita ‘merasa’
sudah menjadi pengikut Yesus dengan
cara demikian tidak akan pernah kita peroleh.
Kalau demikian maka orang
seperti itu PASTI AKAN KECEWA, sebab
Tuhan sudah lebih dahulu menolaknya. Dalam realitanya, orang-orang seperti
itulah yang gampang meninggalkan imannya, menyangkal Yesus, malu disebut
Pengikut Kristus, takut menderita atau mati kalau bersaksi, takut miskin kalau
terlibat dalam pelayanan, kuatir akan masa depannya kalau dia serius-serius amat
mengikut Yesus dan menuruti segala FirmanNya.
Saudara, rasanya pasti akan
sakit sekali ketika seseorang tidak diakui oleh orang yang dikasihinya sebagai
orang yang dia kenal. Atau juga
seseorang yang dulunya berkata mengasihi kita, dekat dengan kita tetapi
tiba-tiba di hadapan orang dia berkata dia tidak mengenal kita. Misalnya
seorang anak yang durhaka yaitu anak
malu mengakui ayahanya atau ibunya karena miskin, pekerjaan hina, tampang tidak
keren, dan lain-lain sehingga anaknya malu mengakuinya di hadapan
teman-temannya. Ketika hal itu terjadi, betapa sakit dan pilunya hati orang tua
itu.
Demikian juga dengan kita yang
berTuhankan Tuhan kita Yesus Kristus.
Betapi pilu hati Tuhan kita ketika kita takut dan malu mengakuiNya di
dunia ini. Malu menyebut diri kita
Kristen, takut berkata di hadapan orang yang tidak seiman bahwa kita Pengikut
Kristus. Saya jadi teringat kisah seorang saudara berpeci yang mendatangi beberapa
kedai kopi untuk bertanya siapa disitu
seorang Kristen. Ketika dia masuk kedai yang satu sambil memegang pedang yang
berlumuran darah dia bertanya:
”siapa di sini yang beragama Kristen?”.
Dia bertanya dengan karakter suara yang keras.
Semua laki-laki yang di kedai itu terdiam dan
tampak takut. Sampai tiga kali dia bertanya sambil pegang pedang yang
berlumuran darah itu: “siapa di sini
orang Kriten?”. Tidak ada yang menyahut. “Tidak ada yang mengaku?”. Lalu dia pindah ke kedai kopi yang lain.
Di situ juga dia bertanya hal yang sama sambil pegang pedang berlumuran darah.
Setelah bertanya tiga kali di tiga
kedai, adalah seorang yang langsung
berani berkata “Aku Kristen, ada apa?”.
Lalu pria berpeci ini berkata: “Ayo mari
ke ladangku, di sana ada babi hutan yang barusan ku bunuh karena memakan
tanaman-tanamanku. Ambillah dan bawa itu samamu, itu haram bagi kami. Kurang
lebih ada 70Kg beratnya itu. Segera seseorang yang berani mengaku ini
berdiri dan mengikut pria berpeci itu.
Maksunya adalah sering sekali
bahkan untuk sesuatu hal yang belum jelas dan tidak kita tahu apa di depan
sana, kita sudah takut untuk berkata “aku
murid atau pengikut Yesus”. Sehingga hal-hal baik yang Tuhan janjikan tidak
akan pernah kita peroleh, dan segala kebaikan Tuhan tidak akan pernah kita
nikmati.
Selanjutnya saudara di dalam
mengikut Yesus selain kesaksian dan
keberanian kita mengakuiNya dihadapan dunia ini, maka Tuhan juga menginginkan
kita untuk bersedia memikul salib. Sebab itulah bukti telah menjadi pengikutNya.
Dalam perikop ini ada beberapa hal Tuhan mau ungkapkan tentang memikul salib
setelah menjadi pengikutNya. Saat kita memutuskan percaya kepadaNya dengan
sungguh-sungguh dan MengikutiNya itulah permulaan kita masuk dalam PENDERITAAN
KRISTUS. Karena itu Yesus berkata dalam ayat 34-36 supaya para pengikutnya jangan
salah tafsir akan kedatangan Yesus. Sebab di sini dikatakan bahwa kedatanganNya
bukan membawa damai tetapi membawa pedang, yang bisa menimbulkan perpecahan
atau pemisahan.
Sejak seseorang bertobat atau
menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya, atau masuk menjadi Kristen
dari yang sebelumnya bukan seorang Kristen menjadi Kristen, tentu sekali dia akan mengalami
goncangan, penolakan, pengusiran, di singkirkan, ditingalkan, bahkan ada yang
di ancam dibunuh. Hubungan keluarga bisa
putus, hubungan orangtua dengan anak bisa rusak, hubungan keluarga besar pecah.
Selain itu kemungkinan penolakan dari lingkungan sosial, pertemanan, bahkan
dari keluarga terdekat sendiri bisa muncul. Teman-teman yang sebelumnya kenal
kita, akrab melakukan suatu hobby tiba-tiba sejak kenal Kristus, bertobat dan
menjadi pengikut Kristus yang setia, dia menjadi dianggap aneh, tidak di sukai
lagi, dianggap sudah berbeda dengan mereka.
Tragisnya lagi, bahwa keluarga
dekat bisa saja golongan pertama yang akan menjadi PENENTANG DAN
PENGHALANG saudara untuk mengikut Yesus.
Contohnya mungkin selama ini suami istri bahkan anak-anak tidak tertarik untuk
serius beribadah dan beriman kepada Tuhan. Tetapi ketika Tuhan menjamah hati si
istri atau si suami, lalu dia bertobat, akhirnya dia menjadi aneh bagi
suaminya, dan ketika dia mengajak suaminya ke gereja, mengajak berdoa, malah
dia dimarahi, dianggap sudah lain,
bahkan kalau dilarang melakukan perbuatan dosa seperti yang selama ini
mereka tolerir bersama, si suami bisa marah-marah dengan hebat dan berkata: “macam tak ku kenal saja kau, jangan sok
sucilah, samamulah gerejamu itu, samamulah Tuhanmu itu”, dan lain
sebagainya. Atau seorang anak yang dinasehati ayahnya ketika ayahnya sudah
bertobat maka anak itu langsung menantang dan berkata” Ayah jangan sok sucilah, macam tak kukenal saja bapak, dan lain
sebagainya”. Inilah yang disebut Yesus dalam ayat 35-36 dalam nas ini: “Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan
dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya dan musuh orang ialah orang-orang seisi
rumahnya”.
Saudara, jika pada titik ini saudara akhirnya RAGU DAN
TAKUT mengikut Yesus, lantas saudara memutuskan untuk mundur maka saudara
bukanlah pengikut Yesus, tetapi hanya SEKEDAR IKUT-IKUTAN, ATAU COBA-COBA.
Yesus pernah berkata dalam Lukas 9:62 "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak
layak untuk Kerajaan Allah”. Situasi yang terjadi setelah kita
berikrar mau mengikut Yesus dengan setia dan berani tentunya lambat laun akan memberikan kita
hasil dari iman kita itu. Inilah Salib yang harus kita pikul ketika kita
memulai untuk mengikut Yesus. Jika kita setia mereka-mereka yang menentang iman
kita pada awalnya akibat dari kesetiaan kita dan keseriusan kita untuk berdoa bagi
keselamatan mereka juga, secara bertahap tentunya kita akan melihat hasil dari kesetiaan kita.
Beberapa kali calon penatua bahkan penatua menyampaikan pergumulannya
kepada saya bahwa ketika mereka semakin meresponi panggilan Tuhan dan semakin
dalam untuk mengenal dan melayani Tuhan justru pasangan mereka menjadi
penghalang bagi mereka untuk maju. Bahkan ada juga yang rumah tangga mereka
yang sudah di ujung tanduk. Ada yang menjadi mengalami pergumulan di dalam
pekerjaannya, bahkan ada yang diberhentikan dari pekerjaannya. Seberapa yakin
kita akan panggilan Tuhan dan keyakinan mengikut Yesus akan menentukan apakah
kita akan bertahan untuk terus maju atau akan mundur dari mengikut Yesus. Yang
pasti kesetiaan kita mengikut Yesus tidak akan pernah sia-sia dan bahkan jika
kita beriman sungguh-sungguh kepada Tuhan, Dia juga pasti akan mengurus dan
menanggungjawabi orang-orang yang terdekat dengan kita seperti keluarga kita. Jika karena mengikut Yesus kita harus kehilangan satu, maka Tuhan bisa menggantikannya menjadi tujuh jika kita tetap setia.
Saudara yang dikasihi Tuhan, selanjutnya memikul salib juga
berarti keberanian dan komitmen untuk
memprioritaskan Yesus dari yang lain.
Dalam ayat 37 menunjukkan bahwa Yesus haruslah sebagai yang utama bahkan daripada orang yang paling dekat
dengan kita di bumi ini. Sebagai Tuhan, Pencipta dan pemilik kita Dia tidak mau
diduakan. Kita manusiapun pasti akan senang dan bangga jika kita
menjadi nomor satu di hati seseorang. Demikian juga seorang suami atau istri
tidak akan bahagia jika dia tahu dirinya diduakan atau dimadu. Seorang
bapak/ibu akan merasa kecewa, sedih, dan terasa menyakitkan apabila anaknya
lebih memilih atau mengidolakan bapak/ibu lain yang bukan orangtuanya, dan itu
menyakitkan. Karena itu bisa dikatakan bawah sejak kita percaya TUHAN maka
TUHAN adalah kekasih jiwa kita bukan suami atau istri bahkan anak. Tetapi suami/istri
adalah kekasih hati kita, dan anak-anak adalah buah hati kita dengan pasangan
kita.
Jadi bagaimana? Mungkin di benak kita muncul pertanyaan apakah
setelah menjadi percaya Yesus dan menjadi pengikutNya kita harus meninggalkan
atau tidak perduli lagi dengan orangtua atau anak-anak kita?. Sesungguhnya
setiap orang yang percaya dan beriman kepada Tuhan dan yang setia pasti akan
mendahulukan Yesus tanpa mengabaikan keluarga. Artinya kita tidak boleh
melakukan satu bagian ayat Firman Tuhan tetapi mengabaikan bagian lain dari
ayat Firman Tuhan. Tidak ada orang yang percaya dan beriman kepada Tuhan yang
mengabaikan atau tidak perduli lagi dengan orangtuanya atau keluarga terdekatnya. Sebab Firman Tuhan juga berkati “hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut
umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu” (Keluaran 20:12).
Saudara marilah mengikut Yesus bukan karena ikut-ikutan,
atau coba-coba, atau motivasi yang lain selain karena Dia adalah Tuhan yang
telah mengasihi kita, mengampuni dosa-dosa kita serta yang memanggil kita untuk
menjadi umatNya. Jangan mengikut Tuhan hanya supaya orang berkata kita
beragama. Jangan mengikut Tuhan atau menjadi Kristen dan masuk gereja hanya
supaya dipandang orang bahwa rumah tangga kita sudah sah disebut keluarga yang
berTuhan, atau juga tujuan-tujuan lain yang sifatnya demi kepentingan diri kita
sendiri seperti pengurusan dokumen-dokumen penting sebuah rumah tangga. Jika
motivasi kita demikian maka itulah yang disebut pengikut Yesus yang aji mumpung.
Orang seperti itu pasti akan lebih
memilih pesta/adat, acara keluarga, hobby daripada melayani Yesus atau
beribadah kepadaNya. Biasanya orang-orang seperti inilah yang tidak bisa
menyangkal diri. Jika seseorang tidak bisa menyangkal diri maka dia tidak akan
layak disebut pengikut Yesus.
Karena itu melalui nas Firman Tuhan hari ini, Tuhan mau
supaya memprioritaskan (mengutamakan) Tuhan dari segala hal yang ada di dunia ini. Jangan karena tidak mau kehilangan yang di
dunia kita malah melepas yang di sorga. Ini sangat menyedihkan dan menjadi sebuah tragedi dalam hidup seseorang.
Ketika dia berjuang keras bahkan sepertinya tidak mengenal lelah dan hampir
tidak mengenal waktu untuk meraih dan mengumpulkan segala harta, kemuliaan dan
kebanggaan dunia ini sampai akhirnya dia tidak punya waktu untuk mengejar yang terutama dalam hidup ini yaitu Kristus
dan kehidupan yang kekal yang Tuhan sediakan maka dia sesungguhnya akan
kehilangan harta yang paling berharga dan mulia itu dan mati dalam kesia-siaan.
Jadi jangan karena mengasihi dunia kita
di tolak dari sorga.
Selanjutnya dalam ayat 38-39 kita melihat pernyataan Yesus yang
begitu tegas tentang bagaimana syarat mengikut Yesus. Yesus berkata bahwa “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,
ia tidak layak bagi-Ku”. Mengikut Yesus tidak bisa dilepaskan dengan
memikul Salib. Orang yang mengikut Yesus tetapi tidak mau pikul salib adalah pendusta.
Pikullah
Salib yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.
Saudara salib apa yang Tuhan sudah
letakkan di pundak saudara? Apakah salib sebagai seorang ayah? Seorang ibu? Seorang
suami/istri? Seorang anak? Orang batak? Orang jawa? Atau suku lain? Sebagai seorang
karyawan atau manager atau pemilik perusahaan atau pegawai sebuah instansi? Apakah
seorang kakek atau nenek? Sebagai abang/kakak dari adik-adiknya? Atau seorang pelayan
Tuhan atau hamba Tuhan? Atau apapun itu, pikullah semua salib itu lalu IKUTLAH
YESUS. Karena itu dalam Matius 16:24 dikatakan bahwa: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya dan mengikut Aku. Sehingga dalam hal mengikut Yesus
persyaratan ini mutlak diikuti atau dimiliki yaitu: SANGKAL DIRI dan PIKUL
SALIB. Sangkal
diri artinya berkorban untuk semua
keinginan daging dan hawa nafsu, dan pikul salib berarti menerima semua beban
dan tanggungjawab yang diberikan kepada kita dengan tabah dan setia.
Tearkhir
di ayat 39 Yesus berkata : Barangsiapa mempertahankan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia
akan memperolehnya.
Konsep menyelamatkan nyawa dan kehilangan nyawa tidaklah seperti yang dunia ini
pikirkan. Tuhan mau mengatakan kepada kita lewat nas Firman Tuhan ini
bahwa “jangan
karena takut kehilangan nyawa malah sungguh-sungguh kehilangan nyawa”. Tidak ada
satupun yang berhak mencabut nyawa dan memberikan nyawa kepada manusia selain
daripada Tuhan sendiri. hanya Tuhan yang berkuasa memberi dan mencabut
nyawa. Konsep Tuhan tentang “kehilanghan
Nyawa” adalah: Ketika penghakiman datang maka setiap orang yang karena
takut nyawanya hilang malah akhirnya menyangkal Yesus dan meninggalkan Yesus
akan dicampakkan ke dalam perapian yang
menyala-nyala. Semetara konsep Tuhan tentang “menyelamatkan” Nyawa adalah: Ketika seseorang berani sampai
bertaruh nyawa, bahkan kehilangan nyawa di bumi ini untuk mengakui Yesus di hadapan manusia semasa
hidup di bumi, maka ketika hari penghakiman tiba Dia akan dinyatakan benar dan
akan hidup selama-lamanya bersama Tuhan.
Kehilangan
nyawa di dunia bukan berarti kehilangan nyawa di sorga. jangan takut mati sebab
kematian bukanlah akhir dari
segalanya, tetapi titik permulaan dari selama-lamanya. Hidup yang singkat ini
menentukan apakah kematian dan penderitaan kekal selama-lamanya di api neraka
atau kehidupan dan kebahagiaan selama-lamanya di sorga bersama Tuhan yang akan
kita terima sebagai upah dari kesempatan hidup yang Tuhan berikan kepada setiap
kita di bumi ini.
Karena itu hanya kesempatan hidup di bumi yang
singkat inilah kunci dan peluang untuk manusia apakah dia akan menyelamatkan
nyawanya atau kehilangannya. Namun banyak sekali manusia termasuk orang percaya
yang tidak memanfaatkan kesempatan yang singkat ini untuk memuliakan Tuhan dan
menyaksikan kebenaran tentang siapa Yesus sang Juru Selamat. Bisa saja karena
mereka takut, sebab banyak contoh yang mati martir dan mengenaskan akibat kepercayaannya
kepada Yesus. Jangan takut menderita karena Kristus. Sebab apapun bentuk
dan penderitaan itu tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan yang Yesus
tanggung karena dosa-dosa kita. Karena itu
setiap orang kristen yang selama mengikut Yesus
belum pernah mengalami penderitaan karena Injil atau kebenaran maka
Kekristenannya dipertanyakan. Tuhan sendiri akan datang sebagai
hakim dan memberi balasan kepada setiap orang menurut perbuatannya.
Saudaraku, marilah lewat renungan minggu ini
kita semakin yakin dan mantap untuk mengikut Yesus meskipun banyak tantangan
dan pergumulan yang kita hadapi. Tetaplah pikul salib itu, dan ikutlah terus
Tuhan Yesus maka kita akan merasakan pertolongan, perlindungan dan keselamatan
yang dari padaNya. Maka buah dari kesetiaan kita itu akan muncul indah tepat pada
waktunya. Kiranya renungan ini menguatkan dan meneguhkan iman kita bersama
untuk tetap mau mengikut Yesus dan memikul salib sampai Tuhan berkata “sudah selesai” lalu kita dibawa bersamaNya
selama-lamanya. Amin, Maranatha Tuhan Yesus datang kedua kalinya.
Shalom
Tuhan Yesus memberkati.
Ev.
Harles Lumbantobing
KLIK ARSIP untuk melihat tulisan lainnya
di Daftar... ARSIP.......