Jumat, 03 Juli 2020

MENJADI BERKAT DALAM KEPELBAGAIAN



Ibadah Minggu, 5 Juli 2020   
MENJADI BERKAT DALAM KEPELBAGAIAN

Evanggelium   : Kejadian 12:1-19
Epistel             : Roma 15:7-13

12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.
12:6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.
12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.
12:8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.
12:9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.


Shalom, selamat hari minggu buat saudara semua. Apa kabarnya hari ini, kiranya senantiasa ada dalam perlindungan Tuhan. Minggu ini kembali Firman Tuhan menyapa kita dan terus memberikan makanan rohani bagi kita supaya rohani kita tetap hidup, sehingga hidup yang jasmani akan bergairah oleh yang rohani. Makanan jasmani untuk tubuh jasmani supaya tubuh jasmani tetap hidup dan makanan rohani untuk tubuh rohani supaya tubuh rohani tetap hidup dan berkehidupan.
Dalam Nas Firman Tuhan hari ini mengambil tema: “MENJADI BERKAT DALAM KEPELBAGAIAN”.
Bagaimana Nas Firman Tuhan ini  memberikan nutrisi rohani bagi kita tentang menjadi berkat dalam kepelbagaian?. Saat merenungkan perikop ini, saya menemukan bahwa hidup setiap orang percaya bukanlah untuk dirinya sendiri. Allah tidak memilih dan memberkati kita hanya untuk kepentingan dan keperluan diri kita sendiri. Tetapi ada rencana Allah yang agung yang sedang Dia persiapkan melalui setiap orang yang dipilih dan diberkatinya.
Apakah saudara tahu bahwa saudara dipilih dan diberkati Tuhan? Atau Apakah saudara sadar bahwa saudara dipilih dan diberkati Tuhan? Mari renungkan kembali. Hal ini memiliki pengaruh terhadap perspektif (sudut pandang) saudara atas segala berkat Tuhan yang kita miliki (lebih tepatnya “berkat  yang Tuhan titipkan”).

Mari kita lihat perikop ini berbicara apa kepada kita.
Sebelumnya nama Abram yang artinya “dia yang dimuliakan” (ensiklopedia Alkitab) akan diganti oleh Tuhan sendiri menjadi Abraham yang artinya “Bapa sejumlah besar bangsa” (Kejadian 20:1-5) pada usianya yang ke 99 tahun, setahun sebelum Ishak lahir.
Pertama kita melihat bahwa Abram disuruh Tuhan pergi ke tempat yang akan ditunjukkan kepadanya. Abram sama sekali belum mengetahui kemana dan dimana dan seperti apa tempat tersebut. Namun sebelum Abram mengambil keputusan Tuhan menyatakan beberapa hal kepada Abram yang sepertinya menjadi pertimbangan kepadanya. Hal-hal yang Tuhan janjikan itu adalah bahwa Tuhan akan manjadikan Abram menjadi bangsa yang besar, memberkatinya dan membuat namanya masyur, membuat Abram menjadi berkat sehingga setiap orang yang memberkatinya akan diberkati dan setiap orang yang mengutukinya akan dikutuk, dan oleh karena Abram semua kaum (bangsa) akan diberkati.
Dalam Nas ini Abram tidak ada dituliskan membantah atau berdebat dengan Tuhan. Tetapi bisa saja Abram memikirkan tawaran Tuhan dan merenungkannya, bahkan “kemungkinan" berdiskusi dengan istrinya Sarai dan kaum kerabatnya. Sebab peristiwa itu tentunya tidak terjadi dalam semenit atau sehari saja seperti kita membaca ayat 1 sampai 3 lalu langsung otomatis terjadi ayat 4 yaitu Abram pergi. Sebab selain Sarai  Abram juga  pergi dengan Lot keponakannya yang tentunya  butuh diskusi, dan kesepakatan dengan Lot dan keluarganya. Tetapi di ayat 4 Firman Tuhan menjelaskan bahwa Abram pergi melakukan seperti Firman Tuhan yang artinya bahwa tawaran Tuhan yang tidak masuk akal itu ditaati oleh Abram. Mungkin Abram berdebat dengan istri dan kerabatnya tetapi tidak dengan Tuhan.
Perintah itu tidak masuk akal sebab Abram dan Sarai sudah tua tidak mungkin punya keturunan lagi ditambah pula Sarai itu mandul (Kejadian11:30) . Belum lagi tempat yang dituju juga masih misteri ( di ayat 7 setelah Abram sampai di tanah Kanaan baru Tuhan mengatakan bahwa tanah itulah yang akan diberikan kepada keturunannya), dan mereka harus meninggalkan keluarga besarnya, komunitasnya, tanah kelahirannya bahkan tanah warisan miliknya dari ayahnya Terah.
Ketaatan Abram untuk menuruti perintah Tuhan untuk pergi menjadi permulaan dalam sejarah perjalanan iman Abram yang luar biasa. Sepertinya Abram belum banyak mengenal Tuhan dengan baik, namun sedikit yang dia kenal sedikit itu juga yang dia lakukan. Sebab di ayat  7-8 ketika di More dan di Betel saat Tuhan kembali menjumpai Abram disitulah Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan dan mulai memanggil nama Tuhan (ayat 8).
Saudara, sebanyak apa kita mengenal Tuhan dan sudah berapa lama kita mengenal Tuhan? Dan sudah sejauh mana kita menuruti Firman Tuhan? Mari merenungkannya bersama-sama.
Dalam tema minggu ini, kalimat kunci yang kita ambil untuk direnungkan adalah bagian dari  ayat 3 perkataan “dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Bagaimana mejadi berkat dalam kepelbagaian/keberagaman?
Hal pertama yang perlu kita ketahui adalah bahwa keberagaman itu adalah anugerah. Keberagaman menunjukkan kehebatan dan keagungan sang pencipta yaitu Tuhan. Manusia Tuhan ciptakan dan tetapkan demikian. Sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk menolak keberagaman sebab itulah yang terindah yang Tuhan ciptakan. Dalam realitas hidup kita bisa menjumpai bahwa sesungguhnya keindahan itu tercipta di dalam keberagaman. Demikian juga dengan persatuan. Persatuan ada karena adanya perbedaan dan keberagaman. Tanpa keberagaman tidak akan ada persatuan yang ada hanyalah satu. Istilah “Colorful” artinya penuh warna yang tercipta dari beragam warna seperti pelangi sehingga kita melihatnya indah. Jadi kalau keberagaman itu adalah anugerah dari Tuhan kita semua harus menerimanya sebab itulah yang terbaik yang Tuhan ciptakan.
Untuk menjadi berkat bagi semua orang dalam kepelbagaian tentunya kita harus bisa menerima 2 hal yang utama yaitu:
Yang pertama yaitu penerimaan akan keberbedaan itu. Menerima diri kita sendiri yang memang berbeda dengan orang lain dan menerima orang lain disekitar kita yang berbeda dengan kita. Hal ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Keberadaan siapa diri kita sesungguhnya terutama dihadapan Tuhan dan sesama manusia adalah sangat penting. Dengan demikian sifat Egois dan mau menang sendiri berangsur-angsur bisa ditanggalkan.  Kemudian meningkatkan empatik dan simpatik terhadap orang lain yang tidak sama dengan kita.  Dari ketaatan Abram ini kita bisa melihat bagaimana dia sadar akan siapa dirinya dihadapan Tuhan.
Kedua yaitu harus diberkati dulu untuk bisa menjadi berkat. Di awal saya berkata “Apakah saudara tahu bahwa saudara dipilih dan diberkati Tuhan? Atau Apakah saudara sadar bahwa saudara dipilih dan diberkati Tuhan?. Maksudnya adalah penting sekali mengetahui dan meyakini hal ini sehingga benar-benar kita menjadi pelaksana Firman Tuhan untuk menjadi berkat bagi semua orang tanpa kecuali. Sebab bagaimana kita menjadi berkat kalau kita sendiri tidak mengetahui bahwa kita diberkati oleh Tuhan. Bagaimana kita bisa menjadi berkat bagi orang lain kalau meskipun kita tahu kita diberkati Tuhan tetapi kalau tidak punya kesadaran atas berkat itu maka hidup kita tetap tidak akan bisa menjadi berkat.  Berkat bisa menjadi kutuk baik bagi diri sendiri maupun orang lain jika berkat-berkat tersebut tidak kita akui, sadari dan kerjakan dengan taat. Menjadi berkat bagi semua orang adalah perintah Tuhan bukan hanya kepada Abram, tetapi semua orang yang beriman  kepada Tuhan. Itu sebabnya jika kita beriman  kepada Tuhan yang Abraham imani dan bertindak menjadi berkat bagi semua orang  maka Abraham adalah bapa iman kita. Ingat Iman harus disertai dengan perbuatan. Itu sebabnya penting sekali mengetahui dan menyadari  bahwa kita telah diberkati oleh Tuhan.
Semakin kita dekat kepada Sipemberi berkat itu  yaitu Tuhan maka kita akan semakin menyadari bahwa kita sudah diberkati oleh Tuhan. Satu contoh hal paling mudah melihat bahwa kita diberkati oleh Tuhan adalah bahwa ketika kita bangun tidur, lalu kita masih bisa bernafas dan melihat keluarga kita atau orang-orang sekitar kita  itu artinya kita masih Tuhan beri kesempatan hidup. Hidup adalah anugerah dan berkat dari Tuhan. Itu sebabnya hidup kita juga harus kita persembahkan kembali  kepada Tuhan sebagai berkat bagi orang lain.
Hal-hal lain juga bisa kita buat sebagai contoh untuk melihat betapa besarnya berkat dan anugerah Tuhan bagi kita yaitu seperti keluarga, pekerjaan, materi/harta, tempat tingggal, dan juga fasilitas-fasilitas yang kita punyai. Jika imannya naik level lagi maka kesehatan, sukacita dan kebahagiaan, kesempatan beribadah dengan tenang, ketenteraman hidup dan lingkungan adalah juga berkat/anugerah dari Tuhan.  Jika imannya semakin naik level lagi maka ujian dan pencobaan serta penderitaan yang dialami juga akan menjadi berkat sehingga hasil kesaksian atas penderitaan, ujian dan cobaan itu akan juga dibagikan kepada orang lain untuk menguatkan orang lain.
Abram bisa menjadi berkat bagi segala kaum adalah setelah dia menerima berkat itu, lalu tahu bahwa dia sudah menerimanya, lalu sadar bahwa berkat itu datangnya dari Tuhan. Sehingga untuk bisa menjadi berkat seperti janji dan keinginan Tuhan maka tidak ada jalan lain bagi Abram selain harus TAAT. Jadi saat berkat diterima maka ketaatan harus mengikutinya. Tanpa ketaatan Abraham tidak akan menghasilkan dan memperoleh  apa-apa.
Untuk mencapai level bapa orang beriman tidaklah mudah dan mulus dijalani oleh Abraham. Beberapa kali dia jatuh dan gagal sehingga dia dan orang lain mendapat konsekuensi atas kegagalannya (kejadian 12:11-20; Kejadian 16:1-4, Kejadian 20:1-18). Tetapi Tuhan tidak pernah gagal dalam menentukan pilihanNya. Abraham terus bangkit dan menjalani panggilannya. Kita semua tahu ketaatan dan kesediaannya yang sangat terkenal dan diperhitungkan oleh Tuhan  yaitu mengorbankan anak satu-satunya dari Sara di Gunung Moria yaitu anak perjanjian yang keturunannya akan menjadi sebanyak pasir di pantai dan bintang di langit. Hal tersebut telah membuat nama Abraham ditinggikan oleh Tuhan dan mengapresiasi Iman dan kepercayaannya (Kejadian 22). Alkitab menyaksikan dalam Ibrani 11:17-19:”Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu”. Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali”.
Sebenarnya jika kita lihat diawal pemilihannya, tidak ada kualifikasi Abram yang tercatat dalam Alkitab sehingga dia dipilih dan diberkati Allah. Tetapi saat dia dipilih dan diberkati oleh Allah maka kualitas iman Abram semakin terlihat dan menonjol, bahkan sampai kepada level bapa segala orang yang beriman . Dan benar setiap orang yang memberkati Abram (berbuat baik kepada Abraham) maka orang atau kaum atau bangsa itu turut diberkati. Tetapi sekali lagi hal tersebut tidaklah serta-merta diperolehnya. Diperlukan ketaatan serta ketekunan di dalam mengerjakannya. Ibrani 10:36 berkata “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu”. Artinya setelah taat melakukan kehendak Allah diperlukan ketekunan untuk memperoleh seluruh janji itu.
Bayangkan saudara, pada umur 75 Tahun Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham dan 25 tahun sesudahnya baru Allah menggenapinya. Jangankan 25 tahun, banyak manusia saat ini ketika mendengar janji Tuhan lewat Firman Tuhan, atau berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan  maunya langsung jadi dan menuggu satu hari saja rasanya kelamaan. Tetapi Abraham tetap taat dan tekun menjalaninya.

Saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus.
Abraham pergi meskipun janji itu belum dia lihat dan rasakan. Tetapi itulah Iman. Maka kitapun harus pergi untuk melakukan Firman Tuhan yaitu menjadi berkat bagi semua orang. Tanda orang yang menjadi berkat bagi semua orang adalah bahwa hidupnya bisa dirasakan dan diterima oleh semua orang tanpa memandang suku, agama, ras, kelompok dan golongan. Setiap tindakan yang kita lakukan yang bermanfaat bagi semua orang bahkan lingkungan sudah merupakan berkat bagi kepelbagaian.
Rahasia keberhasilan Abraham adalah ketika dia mau melakukan bagian atau perannya. Perannya adalah menjadi alat ditangan Tuhan, mau dan taat ketika disuruh Tuhan, dan kemauan itu adalah anugerah bagi Abram. Dia mau membiarkan dirinya diperlakukan Tuhan sesuai kehendak Tuhan meskipun semuanya tampak tidak masuk akal bagi Abraham.
Apakah tampak masuk akal bagi saudara semua perjalanan hidup saudara  saat ini? Jika semuanya tampak masuk akal lalu saudara menjalaninya maka itu bukanlah iman. Tetapi kalau sudah kehendak Tuhan mari berjalan meskipun itu tidak masuk akal dan itulah iman.
Rahasia berikutnya keberhasilan Abraham adalah ketika Tuhan melakukan peranNya dalam proses perjalanan hidup Abraham. Allah memulai dengan memilih Abram, menuntun dan membimbingnya, melindungi Abraham dari marabahaya, melepaskan Abram dari resiko fatal atas dosa penyimpangan yang dia lakukan dan mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya. Allah setia melakukan perannya, meskipun tercatat Abraham beberapa kali tidak setia. Tetapi syukur bagi Abraham bahwa kesetiaan Tuhan tidak tergantung kepada Abraham tetapi kesetiaan Tuhan tergantung kepada Tuhan sendiri. Hal ini menujukkan ada peran Tuhan dan ada peran kita yang harus kita lakukan.
Karena itu menjadi berkat dalam kepelbagaian adalah hasil akhir yang di dapat Abraham dari janji Tuhan, dan ini dilalui dengan sebuah proses panjang.  Kapan Abraham menjadi berkat bagi segala kaum dan bangsa? Yaitu ketika Yesus Kristus telah lahir menjadi keturunan Abraham. Galatia 3:8 berkata “Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati." Sehingga siapa saja yang bukan keturunan Abraham atau  Non Jahudi apabila beriman kepada Yesus Kristus maka dia akan diberkati sama seperti Abraham diberkati.
Karena itu tugas  kita saat ini yang telah menerima berkat keselamatan dan juga berkat-berkat yang lain harus menjadi berkat bagi semua orang. Sebab kehidupan orang percaya yang telah menerima berkat adalah membawa misi memperlihatkan Kristus kepada semua orang lewat sikap dan perbuatannya seakan mau berkata: “sebagaimana Kristus memberkati saya demikian juga Dia Tuhan ingin memberkati saudara. Lihatlah cara hidupku, kasihku dan imanku…. Dan seterusnya”. Hal itu jugalah yang dikatakan Rasul Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 3:10 yang berbunyi “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku”.
Menjadi berkat bagi keberagaman tidak harus memiliki banyak berkat dulu baru bisa melakukannya. Jika masih sedikit diberkati maka yang sedikit itu jugalah yang harus kita buat menjadi berkat, jika semakin banyak diberkati maka semakin banyak jugalah kita menjadi berkat bagi semua orang.

Saudara,
SUDAHKAH ANDA MENJADI BERKAT HARI INI?

Shalom, Tuhan Yesus memberkati.

Ev. Harles Lumbantobing


KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..

Sabtu, 27 Juni 2020

MEMBANGUN KELUARGA BAHAGIA


Ibadah Minggu 28 Juni 2020
MEMBANGUN KELUARGA BAHAGIA

Evangelium     : Kolose 3: 18-21 
Epistel             : Kidung Agung 8:5-7

 Kolose 3: 18-21 (TB)

3:18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.


Shalom, selamat Hari Minggu buat kita semua. Apa kabar saudara? Semoga selalu yang terbaik. Kiranya saudara juga dalam keadaan sehat baik jasamani dan rohani.
Ibadah minggu ini mengambil tema “MEMBANGUN KELUARGA BAHAGIA”.
Ketika membaca tema ini, langsung yang terpikir bagi saya dan mungkin saudara juga adalah bagaimana membangunnya?, Bagaimana membangun keluarga bahagia ini? Apa yang bisa diberikan keempat ayat yang singkat ini di dalam membangun sebuah keluarga yang bahagia?.
Sebelumnya mari kita lihat dulu beberapa hal tentang keluarga.
Keluarga adalah lembaga tertua yang ada di bumi yang dibentuk oleh Tuhan sendiri. keluarga terdiri dari keluarga inti, keluarga utama, dan keluarga besar. Keluarga inti terdiri atas suami istri dan anak-anak. Keluarga utama terdiri dari keluarga inti + Ayah ibu dan saudara kedua belah pihak. Keluarga besar adalah keluarga inti+Keluarga utama+ semua keluarga yang terhubung dengan  keluarga utama.
Bicara tentang merajut keluarga bahagia ada banyak hal yang  perlu kita pelajari dan persiapkan  hingga kita bisa mewujudkan keluarga bahagia teersebut. Hal itu dikarenakan bahwa berumahtangga adalah ibarat sekolah yang tidak pernah tamat. Meskipun sudah puluhan tahun hidup bersama namun akan selalu ada hal-hal baru yang akan terus dipelajari bersama. Gaya hidup suatu keluarga juga belum tentu cocok dengan gaya hidup keluarga yang lain, bahkan dengan keluarga orangtua sendiri. Masing-masing keluarga harus menemukan format yang tepat untuk keluarga masing-masing.
Dalam kesempatan ini Firman Tuhan mengajarkan empat hal yang sangat penting dalam membangun sebuah keluarga bahagia. Mari kita perhatikan poin-poin yang diajarkan dalam Nas Firman Tuhan hari ini.

1.  Istri tunduk kepada  suaminya
Dalam beberapa kitab yang lain, urutan nasihat ini selalu dimulai dengan “ISTRI” seperti dalam Kolose 3:18-21, Efesus 5:22-25; 1 Petrus 3:1-7. Ada hal penting yang mau disampaikan  menyangkut hal tersebut. Istri menerima anugerah yang luar biasa dari Tuhan sebagai kekhususan mereka untuk menolong dan  memperlengkapi laki-laki, sehingga keduanya menjadi satu kesatuan yang utuh dan sempurna. Sehingga ketika Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, Allah melihat bahwa apa yang diciptakanNya di hari keenam itu (manusia) sungguh amat baik (Kejadian 1:31), kebaikannya menggunakan level “sungguh amat”. Karena itu pengaruh istri dalam menciptakan keluarga yang bahagia dan harmonis sangatlah besar dan penting sekali untuk diperhatikan.
Laki-laki adalah kepala istri (Efesus 5:23) dan kepala itu bisa kokoh karena didukung dan disokong oleh tubuh. Istri adalah tubuh yang menopang suami sebagai kepala. Tetapi tubuh dikenal dari kepala itu sebabnya dikatakan hai Istri tunduklah kepada suamimu, sebab sesungguhnya istri akan dikenal dan “dianggap” karena suaminya.
Kegagalan banyak keluarga adalah ketika istri tidak tunduk dan menghormati lagi suaminya. Kita bisa melihat di jaman sekarang ada banyak istri yang memperlakukan suaminya dengan tidak sepatutnya, berbicara sesuka hati, suka memerintah, mendikte suaminya, dan harus ucapannyalah yang didengar. Bahkan suami tidak bisa mengambil keputusan apa-apa, semua harus tanya istri dulu.  Di depan umum juga sering sikapnya mempermalukan suaminya, dengan  mendominasi suami dalam pembicaraan dengan khalayak umum, menegur suami dengan kasar di depan umum, bahkan menentangnya dihadapan orang lain.  Begitu juga dalam urusan rumahtangga, ada istri yang memperlakukan suaminya sebagai bapak rumahtangga yang harus mengurusi urusan dapur, urusan anak, urusan belanjaan, dan lain sebagainya yang biasanya dilakukan oleh seorang istri. Dan parahnya keadaan ini dipertunjukkan dihadapan orang lain, seakan-akan dia mau berkata “saya istri yang hebat”.
Kesalahan terjadi ketika seorang istri bangga dan senang jika suaminya tunduk kepadanya. Padahal sesungguhnya dia sedang menghancurkan kebahagiaan sejati keluarganya. Sebab kebahagiaan itu bukanlah satu sisi, tetapi baik istri maupun suami harus sama-sama bahagia, sebab kepala tidak bisa dipisahkan dari tubuh.
Ketundukan seorang istri diitunjukkan juga penghormatannya kepada suami juga bukan saja hanya melalui komunikasi verbal, baik saat berdua, dalam keluarga inti, ataupun dihadapan orang  luar  tetapi  juga penghormatan secara non-verbal, yaitu dari gaya dan sikap hidup sehari-hari. Misalnya seorang istri pejabat sebaiknya harus mengikuti gaya dan standart yang pas atau patut sebagai istri seorang pejabat, misalnya dari cara berpakainnya, tutur sapanya, asesoris yang pantas dalam tubuhnya supaya jangan sampai suaminya dicibir atau dicela orang lain hanya karena gaya hidup dan sikapnya dihadapan orang lain.  Demikian juga jika suaminya seorang pelayan atau hamba Tuhan, atau seorang yang sederhana, si istripun seharusnya mengikuti pola hidup suaminya supaya jangan sampai suaminya dicela orang lain hanya karena penampilan dan gaya hidup istrinya.
Jadi ketundukan dan penghormatan istri terhadap suami itu menyangkut verbal dan non-verbal. Sikap-sikap yang tidak pantas terutama di depan umum akan menghancurkan kehormatan suaminya dan sekaligus kehormatan keluarganya.
Bagaimanapun keadaan suami, istri yang bijaksana akan dapat menempatkan diri dengan benar, sehingga kehormatan keluarganya akan bisa dijunjungnya. Di sinilah fungsi seorang istri sebagai penolong yang Tuhan katakan dalam Kejadian 2:18 bahwa istri itu adalah penolong yang sepadan terhadap suaminya. Jika suaminya kekurangan hikmat istri yang  tunduk dan menghormati suaminya akan menolongnya supaya suaminya menjadi berhikmat. Apabila suaminya susah mengambil keputusan maka istri yang bijaksana akan menolong suaminya mengambil keputusan yang tepat, sampai suaminya mampu sendiri untuk mengambil keputusan-keputsan yang terbaik. Hal tersebut dilakukannya karena ketundukan dan penghormatannya kepada  suaminya. Disitulah fungsi melengkapi yang Tuhan berikan kepada seorang istri.
Seburuk-buruknya suami, apabila suami tersebut  memiliki seorang istri yang bijaksana, maka orang lainpun  tidak akan pernah tahu bahwa suaminya punya kelakuan buruk. Itu sebabnya Kitab Amsal 31:10 berkata:  “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata”.  Cakap bukan sekedar bicara cantik, tetapi bijaksana dan penuh hikmat. Hal itu  bisa kita temukan dalam Amsal 31:10-30.  apalagi dikatakan dalam ayat 30 “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji” sudah jelas  cakap itu bukan hanya merujuk kepada kecantikan fisik. Dalam kitab Amsal 31 ini bagitu indah diajarkan tentang istri yang diidam-idamkan setiap suami dan keluarga.
Hal lain yang bisa dilakukan istri dalam hal tunduk kepada suaminya adalah melalui kepiawaiannya di dalam mengelola rumahtangga dan mengasuh/mendidik anak-anak mereka meskipun itu nantinya sebaiknya dilakukan secara bersama-sama. Turut sertanya seorang istri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sebuah keluarga haruslah dilakukan di dalam kerangka menghormati suaminya. Kelebihan ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga suami bisa dituntun dan ditolong dalam memenuhi tanggungjawabnya sebagai kepala rumahtangga. Alangkah indahnya jika istri berhasil menolong suami dalam memenuhi tanggungjawab ekonomi dalam keluarga. Suami akan semakin percaya diri, dihadapan keluarganya dan juga dihadapan orang lain.
Ketulusan dan kesediaan seorang istri menolong suami dalam segala hal adalah merupakan perwujudan pelaksanaan perintah Tuhan kepada setiap istri. Bahwa istri adalah penolong yang sepadan kepada suaminya, dan bahwa  istri harus tunduk kepada suaminya, bahkan dalam Efesus 5:22 dikatakan : “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”.  Sebagaimana gereja tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri harus tunduk kepada suami.
Bagaimana menurut anda ungkapan “di balik keberhasilan seorang suami ada istri yang luar biasa?” Namun bagaimana jika saya balik, “dibalik kegagalan seorang suami ada istri yang merongrongnya”

2. Suami harus mengasihi istrinya.
Dalam mencapai suatu keluarga yang bahagia melalui nas Firman Tuhan ini, hal kedua yang dinasihatkan adalah suami yang harus mengasihi istrinya. Tingkat kadar kasih suami terhadap istri seperti dikatakan oleh Firman Tuhan dalam Efesus 5:25 harus sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Ini artinya kasih yang total dan sempurna. Untuk itu seorang suami harus dekat kepada Kristus, sehingga dia memahami bagaimana kasih Kristus kepada jemaat yaitu dirinya sendiri beserta jemaat-jemaat yang lain. Bagaimana pengorbanan Kristus dan kasih sayangnya kepada umatnya haruslah dipahami dengan benar oleh seorang suami sehingga dia bisa mencintai istrinya dengan cara demikian.
Kegagalan para suami mencintai istrinya adalah karena dia tidak mengenal Tuhan dan cintaNya dengan benar. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap tingkat kebahagiaan yang akan dirasakan keluarga tersebut. (……ayo para istri bantu dan tolong suamimu untuk mengenal Tuhan dengan benar…..)
Kasih seorang suami terhadap istrinya bukanlah sekedar dimulut, tetapi harus  dalam segala tindakannya. Kasih suami terhadap istri harus sampai kepada hal jasmani dan rohani. Tanggungjawab memenuhi kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani si Istri adalah bagian yang sangat penting yang harus dilakukan seorang suami sebagai bukti mencintai istrinya.
Pemenuhan kebutuhan itu haruslah didasari atas pemahamannya akan Firman Tuhan (Efesus 5:25), sehingga dalam pelaksanaan pemenuhan kebutuhan itu tidak ada yang bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan, sebab kepala istri adalah suami dan kepala suami adalah Kristus. Sehingga suami akan menafkahi istri dengan nafkah  batiniah dan nafkah jasmaniah berlandaskan kasih dan kebenaran. Karena itu, kasih seorang suami terhadap istrinya juga memiliki pengaruh terhadap tingkat penghormatan istri terhadap suaminya.
Jadi kewajiban istri adalah tunduk kepada suaminya, dan kewajiban suami adalah mengasihi istrinya dan keduanya harus saling memenuhi kewajiban ini ( 1 Korintus 7:4)  Sehingga dengan mudah kita bisa memeriksa apa yang menjadi masalah dalam sebuah hubungan suami istri apabila mulai ditemukan kekurangharmonisan. Misalnya jika kasih seorang suami mulai berkurang terhadap istrinya, mungkin karena si istri sudah mulai kurang tunduk atau hormat kepada suaminya, atau jikalau sudah merasa tunduk berarti harus lebih ditingkatkan lagi kadarnya. Sebaliknya juga apabila ketundukan dan penghormatan si istri mulai kurang terhadap suaminya, mungkin karena si suami sudah mulai kurang mengasihi istrinya, atau jika sudah mengasihi isrinya, mungkin kasih dan perhatian kepada istrinya harus lebih ditingkatkan lagi.
Demikianlah kedua hal tersebut saling melengkapi dan tidak terpisahkan satu dengan yang lain. Kebahagiaan keluarga erat hubungannya dengan kedua hal ini.  Hal ini lah yang disebut keseimbangan yang pertama dalam sebuah keluarga.

3. Anak-anak harus taat terhadap orang tuamu.
Kebahagiaan keluarga rasanya akan lengkap jika mereka dikaruniakan anak. Anak akan membawa kebahagiaan bagi sebuah keluarga, namun anak bisa juga menjadi faktor yang  bisa membuat kebahagiaan keluarga itu tidak bisa dinikmati.
Dalam Nas ini Firman Tuhan menjelasakan bahwa hal lain selain suami dan istri yang berkontribusi terhadap kebahagiaan keluarga adalah “Ketaatan Anak”. Sejauh mana ketaatan anak  yang diharapkan Tuhan supaya tercipta kebahagiaan itu? Jawabnya adalah “Dalam Segala Hal”. Sebab hal demikianlah dikatakan yang indah dihadapan Tuhan ( Efesus 3:20)
Kebahagiaan orangtua akan terpancar jelas ketika melihat dan mengetahui bahwa anak-anaknya taat kepada mereka. Hal tersebut akan banyak mempengaruhi perjalanan keluarga mereka. Ketaatan anak terhadap orangtua tujuannya adalah supaya anak tersebut juga berbahagia, sebab semua orangtua merencanakan dan merancangkan yang terbaik buat anak-anaknya. Sama seperti Bapa di sorga yang selalu merancangkan yang terbaik buat kita anak-anakNya. Yesus juga pernah berkata dalam Matius 7:9-10 bahwa tidak ada orangtua yang akan memberikan batu kepada anaknya jika ia meminta roti atau memberikan ular jika dia meminta ikan. Itu artinya bahwa tidak pernah orangtua itu memikirkan atau merancangkan hal yang buruk dan tidak layak terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu jaminan seorang anak mendapatkan seluruh yang terbaik dari orangtuanya adalah ketaatan. Ketaatan itu akan memunculkan semangat, motivasi, kekuatan dan tanggungjawab yang semakin kuat bagi setiap orangtua dalam melaksanakan tugasnya untuk menghantarkan anak-anaknya menuju rencana dan kehendak Tuhan. Betapa patahnya semangat orangtua jika menemukan anak-anaknya tidak taat dan selalu membangkang kepada mereka. Apakah yang akan diraih dan dicapai keluarga itu?. Kita bisa banyak belajar dari Ketidaktaatan bangsa Israel kepada Tuhan dalam Perjanjian Lama yang membawa duka kepada Tuhan dan hukuman demi hukuman kepada bangsa itu.
Karena itu jelas sekali bahwa tujuan ketaatan seorang anak kepada orangtua adalah supaya anak-anak itu berbahagia, sukses menjalani hidup dan meraih masa depannya yang penuh harapan, dengan demikian keluarga itu juga akan merasakan kebahagian. Saya pribadi belum menemukan seorang anak yang hidupnya sengsara karena taat dan hormat kepada orangtuanya, sebaliknya ada banyak orang yang hidupnya sengsara karena tidak taat kepada orangtuanya dan yang bahkan mengabaikan orantuanya dimasa tuanya.
Ketaatan anak-anak kepada orangtua juga merupakan pengamalan hukum Tuhan yaitu hukum kelima “ Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Ulangan 5:16=Keluaran 20:12).  Ini artinya bahwa menghormati adalah tanda ketaatan seorang anak kepada orangtuanya.
Di sini Tuhan  jelas menyatakan bahwa tujuan penghormatan itu adalah supaya anak itu baik keadaannya, panjang umurnya di bumi ini.  Jadi rumus umur panjang  dan kehidupan yang baik sebenarnya sudah Tuhan gariskan di dalam Alkitab yaitu melalui taat atau hormat kepada orangtua. “Baik keadaan” sama pengertiannya dengan berbahagia.  Jadi umur panjang dan berbahagia menjadi satu paket yang Tuhan berikan apabila seorang anak hormat kepada orantuanya. Apalah gunanya umur panjang jika tidak disertai dengan kebahagiaan?. Tentunya sia-sia. “Umur pendek namun disertai kebahagiaan adalah lebih berarti daripada umur panjang tanpa kebahagiaan”.
Jadi ketaatan seorang anak membuat dia bahagia, membuat orangtua bergairah untuk hidup dan menjadikan keluarga yang berbahagia.

4. Janganlah menyakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Pesan ini diberikan untuk menyempurnakan kebahagiaan sebuah keluarga. Jika pesan dan aturan diberikan kepada istri dan suami, maka selanjutnya adalah antara anak dan orangtua. Jika diatas sudah tentang anak maka sekarang dari pihak orangtua juga harus melakukan bagiannya  kepada anak itu.  Menyakiti hati anak akan membuat mereka tawar hati, kehilangan semangat dan gairah hidup, bahkan dampaknya dikehidupannya dengan orang lain bisa membuat dia minder atau tidak percaya diri.
Menyakiti hati anak bisa lewat verbal dan non-verbal. Secara verbal ini misalnya ucapan yang kasar dan merendahkannya, Kemarahan yang tanpa sebab, pelampiasan akibat ketidaksenangan terhadap hal-hal lain diluar rumah, pelampiasan akibat kekurangharmonisan suami istri, mempermalukan dan memarahi anak dihadapan teman-temannya, dan lain sebagainya yang sifatnya verbal (kata-kata). Selanjutnya  secara non-verbal adalah melalui sikap yang tidak perduli kepada anak, kekerasan fisik  seperti suka lalu tangan (Memukul) terhadap anak, hukuman dan sanksi terhadap anak yang melampaui kewajaran dan lain sebagainya.
Hal ini bukan berarti orangtua tidak boleh memarahi dan menghukum anaknya, tetapi harus diperhatikan jangan sampai hilang akal sehat sehingga sampai menyakiti hati anak. Alkitab juga berkata bahwa orangtua yang baik akan menghukum dan menegur anak-anaknya jika salah, tetapi dilakukan dengan pikiran sehat, tujuan baik dan dalam tingkat kewajaran.
Hal inilah yang disebut keseimbangan kedua dalam sebuah rumah tangga. Jika keseimbangan pertama antara istri dan suami, maka keseimbangan kedua ini adalah antara anak-anak dan oranhtua.
Masih ada banyak nasihat dan tuntunan dalam merajut dan membangun keluarga bahagia yang bisa kita temukan dan bahas dalam Alkitab (semoga dalam kesempatan lain bisa dibahas di blog ini),  Namun nasihat dan tuntunan ini dalam nas kotbah hari ini jika bersama-sama dilakukan keluarga inti maka Tuhan akan menjadikan keluarga mereka menjadi keluarga berbahagia.

Ayo para istri hormati suamimu, para suami, kasihi dan sayangi istrimu. Ayo anak-anak ataupun dewasa yang masih punya orangtua taatilah orangtuamu dan orangtua janganlah menyakiti hati anakmu. Bahagialah dirimu, bahagialah keluargamu dan dipermuliakanlah Tuhan kita.

Amin, shalom selamat hari minggu.

Ev. Harles Lumbantobing


KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..