Sabtu, 21 November 2020

PENGHAKIMAN TERAKHIR

 Ibadah Minggu akhir tahun Gerejawi

Tema:

PENGHAKIMAN TERAKHIR

 

Ev: Matius 25:31-46

Ep: Yehezkiel 34: 11-16

 

Matius 25:31-46 (TB)

25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.

25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,

25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

25:44 Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

------------------------

Shalom, Selamat Hari minggu. Syukur kepada Tuhan yang masih memberikan kita kekuatan dan kesehatan serta kesempatan untuk terus bisa menikmati kasihNya dan menikmati FirmanNya. Saya bersyukur secara pribadi masih Tuhan mampukan untuk bisa menyapa saudara lewat kebenaran Firman Tuhan dalam media internet ini. Tetap semangat bagi yang beribadah online di rumah, dan tetap jaga kerohanian yang baik. Juga yang beribadah offline atau langsung di gereja tetap jaga kerohanian dan protokol kesehatan juga.

Dalam ibadah minggu akhir tahun gerejawi saat ini, Firman Tuhan mengambil tema “PENGHAKIMAN TERAKHIR” yang di dasarkan pada Matius 25:31-46. Matius 25 ini adalah bagian dari kotbah tentang Akhir zaman yang Yesus sampaikan. Sedangkan Epistel diambil dari Yehezkiel 34:11-16.

Saudaraku, sebagaimana dalam Yehezkiel 34, dimana Tuhan menentang dan menjadi lawan para gembala-gembala jahat lalu kemudian mengambil alih penggembalaan dari gembala-gembala jahat itu dan sekaligus menjadi hakim antara sesama ternak itu dan antara domba jantan dengan kambing jantan, dalam Nas Firman hari ini juga menyinggung tentang penghakiman yang akan datang. Dalam perikop ini Yesus mengatakan akan memisahkan antara domba dan kambing. Domba sebagai gambaran manusia yang percaya dan mengikut Yesus dengan setia serta melakukan FirmanNya. Sedangkan kambing menjadi gambaran manusia yang tidak percaya yang tidak melakukan kehendak Tuhan.

Jadi baik dalam Yehezkiel 34 maupun Matius 25 ini dua-duanya menyinggung pemisahan antara yang baik dan yang jahat, antara orang percaya dengan yang tidak percaya.

Dari Nas Firman Tuhan hari ini kita bisa melihat bahwa bumi bukanlah tempat terakhir manusia. Bumi ini adalah tempat sementara. Semua orang akan kembali kepada dua tempat kekal  yang berbeda. Yang satu ke tempat kehidupan bahagia kekal selamanya dengan Tuhan Pencipta di sorga, dan satu lagi  ke tempat siksaan kekal selamanya dengan Iblis bapa segala pendusta di dalam neraka (Matius 25:46).

Kematian adalah salah satu jalan bagi manusia untuk masuk ke dalam salah satu dari kedua tempat itu. Setelah itu maka kelak jika waktunya sudah tiba maka Tuhan akan mengadakan penghakiman. Dalam Alkitab kita memperoleh banyak tuntunan dan panduan bagaimana supaya hidup berkenan kepada Allah sehingga ketika penghakimanNya tiba Tuhan mengumpulkan kita disebelah kananNya (seperti dalam Nas Firman hari ini) untuk hidup kekal bersama Tuhan di Sorga.

Dalam 2 Tessalonika 4: 14-17 berkata “4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.

4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.

4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;

4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”.

Dari ayat-ayat ini Alkitab menjelaskan beberapa hal:

  1. Bahwa setiap orang yang meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Yesus.
  2. Akan terjadi pembangkitan orang-orang yang sudah mati dalam Kristus. Artinya bahwa akan ada yang tidak dibangkitkan yaitu mereka yang mati bukan dalam Kristus (wahyu 20:5), dan mereka nantinya akan dikumpulkan pada akhir zaman saat penghakiman tahta putih (Wahtu 20:11-15).
  3. Setelah kebangkitan itu maka selanjutnya akan terjadi pengangkatan orang yang percaya kepada Yesus yang masih hidup saat itu. Jadi mereka tidak sempat mengalami kematian jasmani  selama di bumi. Ini juga berarti bahwa akan ada manusia yang masih hidup yang tidak turut terangkat yaitu mereka-mereka yang tidak percaya kepada Yesus  dan mengikutiNya dengan setia. Selanjutnya mereka akan hidup dalam masa kesusahan besar sampai Yesus datang kedua kali sebagai Raja. Pada masa ini jika ada yang mati akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang tidak percaya yang sudah mati  sebelumnya.
Jadi saudara, tidak seorangpun manusia yang tahu kapan peristiwa pengangkatan ini terjadi. Demikian juga dengan kematian bahwa tidak seorangpun manusia yang tahu kapan dia meninggal, di mana dia meninggal, dan seperti apa caranya dia meninggal. Pertanyaannya adalah ketika ajal itu tiba sudahkah kita siap sedia? dan yakinkah kita bahwa kita akan dikumpulkan Yesus disebelah kananNya?

Sesuai dengan Nas Firman Tuhan hari ini yang menjadi hal penting yang mau Tuhan sampaikan kepada kita adalah pertama bahwa penghakiman itu pasti akan tiba. Kedua bagaimana Tuhan menghakimi dan apa kriteria yang Tuhan pakai dalam memisahkan domba dan kambing itu. Dari Matius 25: 35-40 kita melihat bahwa penilaian Tuhan Yesus untuk mengumpulkan orang benar di sebelah kananNya adalah ketika  perbuatan mereka menunjukkan iman percaya mereka kepada Yesus. Jadi iman dibuktikan dengan perbuatan. (Yakobus 2:14,26). Sebaliknya dalam Matius 25:41-46 kita melihat bahwa penilaian Tuhan Yesus  untuk mengumpulkan orang jahat di sebalah kirinya adalah juga berdasarkan perbuatan mereka yang tidak sesuai dengan  Iman mereka dan Firman Tuhan.

Jadi iman mendahului perbuatan dan perbuatan itu membuktikan iman. Contoh-contoh perbuatan yang Yesus sampaikan disini adalah perbuatan kasih kepada orang-orang yang hina dan lemah. Perbuatan ini adalah ciri-ciri orang yang sudah beriman kepada Yesus Kristus. Bagaimana dia berbuat kasih kepada sesamanya dan menjadi berkat bagi sesamanya yang lain. Kita adalah pelayan yang satu terhadap yang lain, dan menjadi gembala antara yang satu dengan  yang lain. Dalam Epistel Yehezkiel 34:11-16  jelas sekali bagaimana seharusnya menjadi gembala dan pelayan bagi sesama yang Tuhan sampaikan. Sebagai mana dalam ayat 16 dikatakan “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya” begitu jugalah yang Yesus sampaikan dalam Matius 25:35-46 ini sebagai bukti dari pengikut Kristus yang sejati. Ayat ini 40 dan 45 dalam Matius 25 ini bukan mau berkata bahwa Standart objek  kasih itu haruslah orang yang paling hina. Tetapi inilah standart yang paling bawah yaitu orang paling hina, lalu orang yang hina, orang biasa sampai  orang yang mulia. Ini berkenaan seperti dalam Yehezkiel 34:16 di atas yaitu semua orang atau semua golongan tanpa pilih bulu (yang kuat dan yang lemah, yang kurus dan yang gemuk) namun kita harus mulai dari yang paling hina.

Jadi yang pertama supaya kita bisa memiliki kehidupan yang kekal sebagaimana diumpamakan sebagai domba di sebalah kanan Yesus adalah IMAN PERCAYA kita kepada Yesus. Sebagaimana dalam 1 Tessalonika 4:14 di atas bawah  setiap orang yang percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia di sorga kekal. Hal ini menjadi jaminan keselamatan kita bahwa barang siapa memiliki Anak ia akan memiliki hidup, dan barang siapa tidak  memiliki Anak ia tidak memiliki hidup. ( 1 Yohanes 5:11-12), dan tanda-tanda orang yang benar-benar mengimani ini adalah mereka yang membuktikannya dalam perbuatannya.

Mungkin selama di dunia kita bisa berpura-pura beriman, bahkan akan membela diri saat penghakiman itu sebagaimana dalam Nas Firman Tuhan hari ini (Matius 25:44). Namun Yesus akan menghakimi dengan adil dan tidak akan ada satu perbuatanpun yang tersembunyi atau bisa disembunyikan. Hal ini sesuai dengan Firman Tuhan dalam Roma  2:16 “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”. Juga dalam Matius  16:27 berkata “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”.

Karena itu saudara, marilah kita hidup seturut dengan Firman Tuhan, supaya apabila waktunya tiba kita didapati Tuhan setia, dan kepada kita akan dikatakan “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”. Hidup seturut dengan Firman Tuhan itu adalah hidup dengan sungguh-sungguh mengasihi Yesus. Mengasihi Yesus  berarti mengasihi yang Yesus kasihi.

Akhirnya saya rindu saudaraku kita menyanyikan lagu berikut sebagai akhir dari renungan ini.

“Selidiki aku”

Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihiMu Yesus
Kau yang Maha tahu, dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagiMu

Reff :
T’lah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis dihidupku
Kuberjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia

Lagu ini juga bisa juga didengarkan dalam Youtube di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=BHofn72YAeI

Selamat Hari Minggu, Selamat Mengasihi, dan Selamat Setia sampai Akhir

Shalom, Tuhan Yesus memberkati.

 

 

Ev. Harles Lumbantobing

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..

 

 

Minggu, 15 November 2020

MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA

 

Ibadah minggu 23 Setelah Trinitatis

Tema:

MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA

 

Ev: Yeremia 29:1-7

Ep: Yakobus 5:1-6

 

Yeremia 29:1-7 (TB)

29:1 Beginilah bunyi surat yang dikirim oleh nabi Yeremia dari Yerusalem kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada imam-imam, kepada nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel.

29:2 Itu terjadi sesudah raja Yekhonya beserta ibu suri, pegawai-pegawai istana, pemuka-pemuka Yehuda dan Yerusalem, tukang dan pandai besi telah keluar dari Yerusalem.

29:3 Surat itu dikirim dengan perantaraan Elasa bin Safan dan Gemarya bin Hilkia yang diutus oleh Zedekia, raja Yehuda, ke Babel, kepada Nebukadnezar, raja Babel. Bunyinya:

29:4 "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:

29:5 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;

29:6 ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!

29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

 

PENDAHULUAN:

Pelayanan Nabi Yeremia berlangsung pada akhir abad ketujuh dan awal abad keenam. Yeremia diutus Tuhan sebagai Nabi kepada bangsa Israel untuk memperingatkan dan  menyampaikan nubuatan dan hukuman Tuhan kepada bangsa itu atas  dosa kedegilan hati mereka yang selalu menduakan Tuhan dengan menyembah berhala-berhala. Namun bangsa itu tetap berzinah dengan ilah lain bahkan percaya kepada nabi-nabi sesat dan palsu yang ada diantara mereka. Nubuatan ini akhirnya terjadi pada saat Nabi Yeremia masih hidup. Nebukadnezar raja Babel merebut dan menghancurkan Yerusalem serta Rumah TUHAN yang ada di situ; raja Yehuda bersama rakyatnya diangkut ke Babel. Mereka menjadi tawanan di Babel.  Namun dalam kitab Yeremia ini juga Tuhan menubuatkan suatu penghiburan bagi mereka bahwa setelah genap 70 tahun mereka akan pulang ke tempat mereka kembali. Demikian dalam Yeremia 29:10 dikatakan: “Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini”.

Sebelum masuk ke tema minggu ini, dari pendahuluan ini kita bisa melihat bahwa ketidaksetiaan bangsa Israel lewat pelanggaran mereka yang menyembah allah lain, dewa-dewa buatan manusia,  telah menyakiti hati Allah dan Allah harus menghajar mereka sebagai anak untuk memurnikan mereka kembali menjadi milik kesayanganNya.

Hal yang sama juga berlaku kepada setiap orang yang mengaku percaya kepada Tuhan yang benar yaitu Allah Tritunggal. Jika kita menduakan Tuhan dalam kehidupan kita  dan percaya kepada ilah-ilah dunia ini dalam berbagai bentuk, dan melakukan penyimpangan akan Firman Tuhan, maka Tuhan akan mendatangkan hajaran dan ganjaran atas ketidaksetiaan kita. Ganjaran dan hajaran Tuhan itu tidaklah mengenakkan bahkan mengerikan, meskipun di dalamnya mengandung kasih karunia. Hal itu bisa kita pelajari dalam kitab Yeremia ini.

 

Ibadah minggu ini mengandung tema “MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA” yang di dasaran pada Yeremia 29:1-7. Dalam Nas Firman Tuhan ini kita melihat bahwa surat ini ditujukan kepada tua-tua, imam-imam, nabi-nabi dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar dari Yerusalem ke Babel (ayat 1). Surat yang dikirim Yeremia ini merupakan pengharapan dan nubuatan bagi bangsa yang dibuang itu bahwa suatu saat nanti Tuhan akan mengakhiri penderitaan mereka sebagai bangsa buangan di Babel. Dalam pasal 29 dan 30 ini jelas kita lihat maksud dan tujuan surat ini disampaikan kepada bangsa Israel.  Kalau kita melihat bahwa masa pembuangan mereka adalah selama 70 tahun maka tentunya sikap hidup dan kehidupan mereka selama di pembuangan ini akan juga turut menentukan bagaimana kondisi mereka di sana. Bagaimana orang Babel memandang dan memperlakukan mereka.

Karena itu Tuhan melalui Nabi Yeremia dalam Nas Firman Tuhan hari ini menyampaikan beberapa hal sikap dan tindakan bangsa itu selama di pembuangan. Dari ayat 5-7 kita melihat:

1. Mendirikan rumah untuk kamu diami.

2. Membuat kebun untuk dinikmati hasilnya.

3. Menikah dan beranak cucu. Dengan tujuannya adalah supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar mereka bertambah banyak dan jangan berkurang!

4. Mengusahakan kesejahteraan kota ke mana mereka Tuhan buang, dan berdoa untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraan mereka juga.

Saya membagi 2 bagian pesan Tuhan kepada bangsa Israel sebagai berikut. Yang pertama Poin 1-3 merupakan tindakan yang akan dan harus mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri supaya mereka bisa bertahan hidup dan keturunannya tidak punah. Dengan demikian mereka tidak akan menjadi beban ekonomi bagi pemerintahan Babel saat mereka menjadi tawanan. Hal ini patut kita contoh dan tiru di dalam kehidupan kita selama di dunia ini. Bagaimana kita sebagai umat percaya harus bekerja dan bisa hidup mandiri tanpa menjadi beban bagi orang lain. Secara umum Tuhan memerintahkan semua manusia untuk bekerja dan mencari nafkah. Siapapun dia kalau dia gigih dan mau bekerja maka akan terpelihara ekonominya. Itu sudah menjadi hukum alam yang Tuhan tetapkan. Bahwa siapa yang malas tidak akan makan tetapi siapa yang rajin dan mau bekerja akan makan. Hal ini juga pernah diperingatkan Rasul Paulus kepada jemaat Tessalonika dalam 2 Tessalonika 3: 10-12 

"Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri”

Hal ini berlaku kepada umat percaya kepada Tuhan Yesus dan juga kepada orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Hanya saja bagi kita yang percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus bahwa bekerja itu bukan lagi hanya untuk sekedar mencari makan, tetapi lebih dari itu yaitu sedang mengemban tugas melaksanakan Firman Allah ditengah-tengah dunia ini dan sebagai kesaksian bagi dunia bahwa kita adalah pengikut Kristus yang sejati. Kalau orang-orang dunia bekerja untuk makan dan untuk kaya, tetapi pengikut Kristus bekerja untuk memuliakan Tuhan. Dengan demikian maka kita tidak akan mempermalukan Tuhan dengan selalu menjadi beban bagi orang lain.

Hal yang kedua adalan poin ke-4 yaitu Mengusahakan kesejahteraan kota ke mana mereka Tuhan buang, dan berdoa untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraan mereka juga. Tema minggu ini tentang mewujudkan kesejahteraan bersama berkaitan juga dengan tema ibadah minggu lalu “Tanggungjawab Orang Kristen dalam Politik”. Bahwa tenggungjawab di bidang politik adalah salah satu usaha untuk turut menciptakan kesejahteraan bersama. Dalam ayat 7 ini  kata mengusahakan dan berdoa adalah satu paket yang tidak terpisahkan yang dipesankan oleh Tuhan kepada  umatNya.

Mengusahakan kota atau daerah dimana kita tinggal supaya sejahtera adalah tatanggungjawab  setiap orang percaya. Coba kita renungkan kalau lingkungan tempat tinggal kita tidak aman dan tenteram apakah kita juga aman tinggal di sana? Demikian juga dengan skop yang lebih besar. Kalau desa atau kota bahkan negara dimana kita tinggal selalu kacau dan penuh perpecahan apakah kita bisa tinggal nyaman di sana? Tentunya tidak. Jika setiap orang percaya di lingkungan tempat tinggalnya bisa terlibat menciptakan kesejahteraan  baik dalam hal keamanan, ketertiban, toleransi antar umat beragama, toleransi antar suku yang berbeda, kebersihan, juga tindakan peningkatan perekonomian  masyarakat, tentunya desa itu akan maju dan sejahtera. Kalau di desa yang lain juga orang-orang percaya melakukan hal yang sama  maka kota itu akan turut merasakannya. Kalau orang-orang percaya di kota-kota yang lain juga melakukannya maka negara itu akan aman sejahtera.

Bekerja dan berkarya adalah tanggungjawab orang percaya untuk mewujudkan kesejahteraan dimana dia tinggal. Ketika seseorang bekerja dimasa dia produktiv untuk bekerja maka dia akan berkontribusi buat kemajuan daerah itu, lalu secara ekonomi dia akan bertahan dan tidak menjadi beban pemerintah atau masyarakat. Bahkan sebaliknya dia akan berkontribusi buat negara lewat pekerjaannya. Seperti dalam ayat 4b “buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya” merupakan contoh untuk terlibat dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebagai contoh dengan adanya kebun, maka dibutuhkan pekerja, maka hasil kebun ada untuk dijual dan dinikmati. Ketika terjadi transaksi penjualan di pasar, maka ada perputaran ekonomi dan orang lain bisa menikmati  hasil kebun itu. Petani berladang menghasilkan hasil pertanian. Jika petani tidak ada maka bagaimana penduduk bisa terpenuhi kebutuhan pangannya? Tentu akan terjadi kesusahan dan kelaparan. Demikian juga disektor pekerjaan yang lain.

Karena itu semua harus bekerja sesuai dengan keahlian dan kemampuan masing-masing. Inilah cara mewujudkan kesejahteraan bersama.

Pernahkah saudara berpikir:

“jika saya tidak menanam padi ini apakah nanti yang akan dimakan orang lain?” Atau

“jika saya tidak menjual ikan ini apakah nanti yang akan dimakan orang lain?” atau

“jika saya tidak bekerja menarik bus angkutan kota ini hari ini apakah nanti jalan penduduk menuju tempat kerjanya?” atau

“jika saya tidak mengajar di sekolah hari ini bagaimana anak-anak itu bisa pintar?” atau

“jika aku tidak masuk kantor hari ini maka urusan-urusan orang lain akan terkendala”

Begitu seterusnya dalam setiap pekerjaan.

Kita melihat disini bahwa sikap ini tidaklah bicara lagi untuk ‘diriku’, ‘keperluanku’, ‘hidupku’ ‘ketenanganku’ dan lain sebagainya. Tetapi lebih kepada bagaimana hidupnya menjadi berkat bagi orang lain. Kalau saya gigih menanam padi supaya orang lain bisa makan nasi, maka tentunya saya juga akan mendapat hasil dari padi yang saya tanam itu, dan saya akan sejahtera dari hasil padi itu. Disinilah letak perbedaan orang percaya dengan yang tidak percaya yaitu motivasi. Hal ini sama dengan berdoa. Jika dasar kita hanya berdoa untuk kebutuhan dan keperluan diri sendiri maka kita tidaklah benar sebagai orang percaya atau pengikut Kristus. Disinilah orang percaya dikenali yaitu bahwa dia berbuat dan berdoa untuk semua orang, untuk lingkungan, untuk pemerintah, untuk penguasa (1 Timotius 2:1-3), bahkan Yesus berkata supaya kita berdoa dan mengasihi orang-orang yang membenci dan menganiaya para pengikutNya (Matius 5:44).

Jadilah sebagai alat di tangan Tuhan  untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dibidang politik, dibidang ekonomi, dibidang kemanan, di bidang sosial, pendidikan dan budaya, dan lain sebagainya di bidang masing-masing sebagaimana yang Tuhan karuniakan. Sebagai para pemimpin yang memimpin di bidang masing-masing, berlaku adillah dan sejahterakanlah orang-orang yang saudara pimpin, sebab kesejahteraan mereka adalah kesejahteraanmu juga. Orang-orang yang tidak melakukan demikian Tuhan tegur dalam Nas Epistel hari ini dalam Yakobus 5:1-6, dan Tuhan sendiri akan berperkara dengan dia.

Karena itu saudara-saudaraku di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Apapun profesi saudara, bagaimanapun keterbatasan saudara, mari berbuat sesuatu untuk bersama. Ciptakan ketenteraman di lingkungan kita, jalin hubungan yang baik dengan semua orang, bekerjalah dengan tekun dengan motivasi yang seharusnya sebagai anak-anak Tuhan, dan berdoalah untuk semuanya supaya Tuhan memberikan kasih dan berkatNya buat lingkungan, kota dan negara di mana kita tinggal. ”SEBAB KESEJAHTERAANYA ADALAH KESEJAHTERAANMU JUGA”

Selamat hari minggu, selamat berkarya dan selamat menjadi berkat.

 

Shalom.

 

Ev. Harles Lumabantobing

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..

 

 

Minggu, 08 November 2020

TANGGUNGJAWAB ORANG KRISTEN DALAM POLITIK

 Minggu ke 22 Setelah Trinitatis

Tema:

TANGGUNGJAWAB ORANG KRISTEN DALAM POLITIK

 

Ev: 1 Timotius 2:1-7

Ep:  Daniel 6:1-15 


Ev: 1 Timotius 2:1-7 (TB)

2:1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,

2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,

2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,

2:6 yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

2:7 Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberitaan dan rasul -- yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta -- dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran.

 

----------------------------

 

Shalom, selamat hari minggu saudara-saudaraku sekalian. Senang rasanya masih bisa menyapa saudara  lewat Renungan minggu ini dalam  media internet saat ini. Semoga saudara yang sedang ibadah di rumah senantiasa merasakan hadirat Tuhan dalam peribadahannya.  Saudara yang merenungkan renungan ini saat ini dalam suasana dan situasi apapun juga kiranya terberkati lewat perenungan hari ini.

Ibadah minggu ini mengambil tema TANGGUNGGJAWAB ORANG KRISTEN DALAM POLITK yang di dasaran pada 1 Timotius 2:1-7.  Pada bulan Desember atau akhir tahun ini Indonesia akan mengadakan Pilkada serentak di seluruh Indonesia. Pesta demokrasi ini tentunya diharapkan akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah dan berorientasi bagi kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.

Dari Nas Firman Tuhan minggu ini kita melihat ada dua tanggungjawab orang Kristen dalam berpolitik. Kedua hal ini adalah:

A.        Berdoa

B.        Ambil bagian dalam politik sebagai saksi  dan kesaksian akan Kristus dan keselamatan.

Hal ini senada dengan  apa yang Tuhan Firmankan kepada bangsa Israel jauh sebelumnya pada jaman Nabi Yeremia. Seperti dalam Yeremia  29:7 berkata: Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Dalam ayat ini terkandung perintah “BERDOA” dan “MENGUSAHAKAN”  yang sama artinya dengan berbuat dan terlibat .

Mari satu persatu kita lihat bagaimana kedua hal ini memilik peran sebagai tanggungjawab gereja dalam politik.

1. Berdoa

-          Melatih dan membiasakan diri berdoa. Kehidupan doa yang hidup sangat penting dimiliki oleh setiap orang yang mau hidup dalam Tuhan. Kehidupan doa yang baik merupakan tanda seseorang memiliki hubungan yang akrab dan dekat dengan Tuhan. Dalam  hubungannya melayani orang lain dan masyarakat, memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah keharusan  sebab kita diberi mandat oleh Tuhan untuk menjadi pelayan bagi sesama kita.  Sebagi apapun profesi kita,  kita semua adalah pelayan bagi sesama.

Demikian halnya dengan orang-orang yang dikhususkan terlibat dalam politik dan pemerintahan  sangat penting sekali kehidupan doa ini dijaga dan dipelihara supaya mereka memiliki sensitifitas yang baik akan kehendak dan tuntunan Tuhan: apa yang harus dan boleh dilakukan serta apa yang tidak boleh dilakukan di dalam melaksanakan mandat melayani masyarakat.

-          Berdoa  untuk semua orang, raja dan pembesar (=pemerintah). Ini merupakan level doa yang  lebih maju. Orang biasanya berdoa  dengan  batas ‘keakuan’. Misalnya kebutuhanku, pekerjaanku, kesehatanku, anakku, istriku, suamiku, keluargaku dan lain sebagainya yang bersifat keakuan. Nasihat ini sangat relevan dengan status sebagai murid dan pengikut Kristus apalagi buat seseorang yang mau terlibat dalam kancah politik dan pemerintahan  yang akan melayani banyak orang.  Sebagai umat percaya kita wajib mendoakan semua orang sampai kepada pemerintah, raja-raja dan pembesar. Hal ini dikatakan Firman Tuhan  sebagai nasehat yang sangat penting untuk keamanan, kententraman dan kesejahteraan suatu daerah atau negara.

Tanggungjawab untuk berdoa bagi negara dan pemerintah ini adalah keharusan sebab dengan demikian kita akan memperoleh ketentraman dan ketenangan untuk hidup saleh dan terhormat.  Nasehat Rasul Paulus ini sangat indah, sebab keinginan kita berdoa buat ketentraman dan ketenangan bangsa itu bukan supaya ada kesempatan untuk hidup bebas dan semau kita, atau bebas tak terkendali. Tetapi justeru kita berdoa supaya dalam ketenteraman  dan ketenangan itu kita bisa bebas berbuat kesalehan dan hidup terhormat sebagai garam dan terang dunia.

-          Berdoa buat semua orang, pemerintah, bangsa dan negara adalah sikap yang baik dan berkenan kepada Allah. Kalau kita berdoa buat seseorang yang kita kenal adalah hal yang biasa, dan mungkin saja kita mendoakannya karena dia berlaku baik kepada kita, atau mungkin ada sesuatu yang kita harapkan darinya, atau balas budi karena dia pernah berbuat baik kepada kita. Namun jika berdoa kepada orang lain yang bahkan kita tidak kenal atau tidak dekat dengan kita, atau orang yang tidak kita sukai atauy malah orang yang membenci kita, adalah  sesuatu yang Tuhan sangat senangi. Berdoa buat orang yang berdoa buat kita atau mengasihi orang yang juga mengasihi kita bukanlah ciri seorang pengikut Kristus yang sejati, sebab orang jahat dan tidak mengenal Tuhan juga melakukannya (Matius 5:46).

Jadi mendoakan bangsa  dan negara  merupakan sebuah tanggungjawab seorang Kristen untuk mendukung berjalannya suatu demokrasi, perpolitikan, dan roda pemerintahan  yang baik dan sehat. Dampaknya adalah tercipatanya kemakmuran dan kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur.

2.  Ambil bagian dalam politik sebagai saksi  dan kesaksian.

Hal kedua yang menjadi tanggung jawab orang Kristen dalam Politik adalah dengan ambil bagian dalam politik itu. Ambil bagian dalam politik ini ada dua peran yang bisa kita lakukan.

Peran yang pertama adalah sebagai masyarakat yang patuh kepada peraturan pemerintah. Dalam Roma  13:1-2 dikatakan : Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

Selanjutnya dalam Roma  13:4  dikatakan: Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat”. Dalam hubungannya dengan perpolitikan, kita seharusnya mendukung Pemerintah untuk mewujudkan perpolitikan yang baik dan sehat. Baik itu dengan ikut di dalam pesta demokrasi pemilihan  kepala daerah, presiden ataupun  legislatif. Mendukung  kampanye yang jujur, sehat, aman dan tertib serta tidak bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan.

Peran yang kedua adalah terlibat di kancah politik sebagai utusan gereja untuk menjadi alat Tuhan dan perpanjangan tangan Tuhan dalam memelihara umat manusia, dan menghadirkan shalom di tengah-tengah dunia. Terlibat maksudnya ikut masuk dalam perpolitikan itu baik sebagai kepala daerah, Presiden, ataupun legislatif. Atau juga dalam posisi-posisi pemerintahan, maupun organisasi-organisasi atau bidang-bidang  yang berhubungan dengan pemeliharaan hajad hidup orang banyak.

Untuk itu saya melihat ada dua hal yang harus dilakukan gereja dan orang-orang yang akan terlibat dan terjun dalam politik itu:

Yang pertama bahwa seseorang itu haruslah memiliki tanda-tanda sebagai seorang Kristen yang sejati yang siap untuk dipakai Tuhan melayani umat sebagai garam dan terang dunia. Karena itu diperlukan beberapa kriteria penting yang sangat perlu diperhatikan. Dia seharusnya seorang yang cinta Tuhan dan sesama. Ini adalah yang utama yang harus dia miliki. Kemudian dia harus memiliki prinsip melayani bukan untuk dilayani. Memiliki sikap serta berani berkata benar dan siap menanggung  resiko kebenaran itu seperti  Daniel, Sadrakh, Messakh dan Abednego. Dalam pertimbangan-pertimbangan untuk memutuskan  hal-hal penting harus juga bersedia meminta nasehat dan dukungan dari Gereja. Hal tersebut akan membuat dia mengambil keputusan yang lebih baik. Dalam kekhilafan dan kesalahan dia harus bersedia dinasehati jika melakukan kesalahan tersebut sebagaimana kebersediaan Daud dinasehati oleh nabi Natan atas dosa dan kesalahannya. Di luar hal-hal ini yang tidak boleh ketinggalan adalah bahwa dia harus juga  memiliki pasukan doa. Pasukan atau tim doa ini menjadi kekuatan utama  dia dalam menjalani pengutusan dan pelayanannya di masyarakat.  Pasukan doa ini banyak dilupakan orang dan sepertinya tidak diperlukan lagi setelah dia mencapai apa yang dia inginkan. Padahal inilah yang memberikan dia kekuatan, ketenangan, bahkan perisai atau pagar dari berbagai macam godaan dan tantangan yang menghancurkan.

Yang kedua Gereja mengutus  dan mendukung jemaat yang terbaik yang mau terlibat dalam politik.  Tentunya gereja tidak boleh tutup mata terhadap kriteria-kriteria di atas. Bagaimana seorang jemaat memiliki kriteria di atas dan bagaimana pula Gereja siap dalam mengutus jemaat terbaiknya itu  jika negara memerlukannya?. Tentunya Gereja harus lebih dahulu melatih dan mendidik spiritual, moral dan karakter jemaat sesuai Firman Tuhan supaya ketika dibutuhkan oleh negara untuk terjun dalam kancah politik mereka juga sudah siap secara mental dan spiritual.  Mengefektifkan pembinaan-pembinaan rohani kategorial, dan sekaligus mendorong jemaat untuk selalu aktif dan gigih dalam pendidikan formal, dan kemasyarakatan akan menjadi sinergi yang sangat baik untuk menghasilkan jemaat-jemaat seperti kriteria-kriteria di atas. Dengan demikian utusan-utusan gereja ini akan menjadi orang-orang yang berprestasi dan diakuai kesaksian pekerjaanya sebagaimana Daniel dan teman-temannya di kerajaan Babel.

Meskipun hal ini sudah mulai jarang kita temukan dalam gereja saat ini, tetapi inilah yang harus dilakukan gereja. Gereja tidak boleh hanya larut dalam memikirkan hal-hal yang bersifat seremonial saja. Namun harus sekaligus menghasilkan jemaat-jemaat yang memiliki visi dan yang bermisi. Di manapun jemaatnya berada dan berkarir harus selalu mengingat bahwa dirinya adalah utusan gereja  yang  tetap harus menjadi garam dan terang.

Untuk itu gereja juga boleh mengusulkan dan mendorong orang-orang terbaiknya untuk ikut menggarami dunia ini dibidang politik dan pemerintahan. Sikap ini harus dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih dimana tidak perlu ada transaksi-transaksi dan perjanjian-perjanjian yang membebani dan berpotensi membuat penyimpangan atas maksud dan tujuan pengutusannya. Karena itu Gereja boleh menolak atau tidak mereferensikan calon yang mau terlibat politik dari jemaat yang tidak punya kesaksian  hidup yang baik, yang hanya mau memperalat gereja untuk kepentingan dirinya sendiri.

Kita tahu banyak orang yang skeptis atau tidak simpatik ketika melihat ada warga gereja yang terlibat politik. Mereka langsung berpikiran bahwa orang tersebut sedang mencari dan mengejar keduniawian. Mereka pasti hanya  ingin mencari nama,  pengakuan, harta dan kemasyuran. Saat ini mereka butuh suara kita, namun sebentar lagi mereka tidak membutuhkan kita lagi bahkan akan mengabaikan kita lagi.  Akibatnya akan ada saling ketidakpercayaan, dan saling mengambil kesempatan dan keuntungan masing-masing. Yang mau maju ke politik butuh suara, yang memberikan suara  butuh dana atau pemberiannya saja sehingga keduanya saling memanfaatkan. Hal ini akan terus menerus terjadi kalau warga jemaat gereja tidak mereformasi pemikirannya. Karena itulah banyak orang-orang yang sebenarnya punya kecakapan dan kemampuan untuk terjun dalam politik menjauhkan diri dari politik itu.

Tanggungjawab gereja dalam politik dan pemerintahan sebagai mana dua hal disampaikan di atas, akan berkontribusi banyak terhadap kemajuan bangsa dan negara. Kehadiran Daniel, Sadrakh, Messakh, dan Abednego di kerajaan Babel memiliki dampak yang luar biasa bagi kemajuan  kerajaan itu. Keempat bersahabat itu  adalah saksi Tuhan yang maha esa di tengah-tengah kerajaan yang menyembah berhala, dan seluruh hidup mereka yaitu apa yang mereka ucapkan dan lakukan dalam pengabdiannya kepada bangsa Babel adalah merupakan kesaksian  bagi semua orang bahwa Tuhan Allah Israel adalah Allah yang benar, hidup dan berkuasa. Dampaknya Raja itu (Raja Darius) begitu mengasihi mereka dan bahkan mengakui Tuhan dengan berkata dalam Daniel 6:27: Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir).

Saudara, Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita tanggungjawab sebagai warga negara, warga gereja (umat percaya) untuk selalu mendoakan semua orang, pemerintah dan penguasa. Kemudian juga ikut ambil bagian dalam perpolitikan sebagai masyarakat yang mengikuti aturan dan peraturan pemerintah serta jika diperlukan ikut terjun di dalam perpolitikan dan pemerintahan. Jadilah saksi yang hidup yang menyatakan siapa Kristus dalam hidup kita dan tunjukkanlah itu dalam cara kita bekerja dan  cara kita melayani masyarakat sebagai kesaksian bagi semua orang.

Kiranya Kristus menolong kita semua untuk menjadi pelaku FirmanNya. Selamat hari minggu, SELAMAT BERDOA DAN SELAMAT BERSAKSI, Tuhan Yesus memberkati.

 

Shalom,

 

 

Ev.Harles Lumbantobing

 

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..