Minggu, 11 Oktober 2020

RENUNGAN IBADAH MINGGU, 11 OKTOBER 2020

Renungan Ibadah Minggu ke 18 Setelah Trinitatis

Minggu, 11 Oktober 2020

Tema:

KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA

 

 

Ev: Markus 10:35-45

Ep: Keluaran 18: 17-23

 

Markus 10:35-45 (TB)

 

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!"

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?"

10:37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"

10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

 

Shalom, selamat hari minggu, selamat beribadah buat kita semua. Puji Tuhan, kita masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk bisa mengambil waktu sejenak untuk merenungkan FirmanNya yang menguatkan dan meneguhkan iman percaya kita.

Ibadah minggu ke 18 Setelah Trinitatis ini mengambil tema: KEPEMIMPINAN YANG MENGHAMBA yang didasari pada Injil Markus 10:35-45. Teks Firman Tuhan hari ini mengisahkan tentang 2 orang murid Yesus yakni kedua anak Zebedeus  yaitu Yakobus dan Yohanes yang membuat permintaan khusus kepada Yesus. Dalam Kitab Matius 20:20-28 juru bicara permintaan ini adalah Ibu mereka, namun yang dialog selanjutnya adalah antara Yesus dan Yakobus dan Yohanes, di dengarkan murid-murid yang lain.

Pembicaraan ini terjadi saat Yesus dan murid-murid dalam perjalanan ke Yerusalem dan suasana murid-murid dalam keadaan takut dan cemas ketika Yesus membicarakan tentang orang yang mengikut Yesus akan mengalami banyak penderitaan dan ketika Yesus menceritakan tentang penderitaan yang akan ditanggung Yesus (Markus 10:28-34).

Dialognya dimulai dengan permintaan mereka kepada Yesus supaya Yesus mengabulkan suatu permintaan mereka yakni supaya Yakobus dan Yohanes nanti duduk disebelah kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaanNya (kerajaanNya). Kemudian Yesus menjawab:

Kata Yesus: Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang kuterima?. Pernyataan Yesus ini merujuk kepada Jalan Salib yang Yesus akan tanggung dan tujuan kedatanganNya. Bahwa tidak akan ada satupun manusia selain Yesus yang bisa menggantikannya. Harus Yesus sendiri yang menjalaninya sebab Dia sudah ditentukan Allah sejak dari semula sebagai korban satu-satunya yang menghapus dosa manusia. Itulah Cawan dan Baptisan yang Yesus maksudkan.

Jawab mereka dengan segera : kami dapat.

Lalu Yesus berkata lagi: Memang kamu akan meminum cawan yang kuminum dan dibaptis  menurut baptisan yang lu terima. Ini artinya bahwa Yesus tidak menyangkal bahwa mereka juga akan mengalami yang Yesus alami, tetapi setelah Yesus melakukannya dan mengalahkan penderitaan dan maut itu. Sehingga nanti setiap orang yang mengikutiNya, tidak lagi takut akan maut dan kematian sebab sudah Yesus taklukkan. Jadi cawan dan baptisan yang Yesus terima adalah sebagai korban pendamainan dan penghapus dosa manusia, sedangkan cawan dan baptisan yang diterima pengikut Yesus adalah untuk memberitakan Kabar baik bahwa dosa kita sudah diampuni dan diperdamaikan dengan Allah oleh pengorbanan Yesus Kristus.

Saudara, dalam peristiwa ini Yesus mengajarkan kepada murid-murid bahwa akhir dan tujuan hidup manusia bukanlah tentang pemerintahan atau  perihal duduk disebelah kiri atau kanan Yesus kalau Dia datang sebagai Raja. Ketika Yesus bicara tentang upah mengikut Yesus (Markus 10:28-31), bukanlah serta merta tentang kedudukan atau pemerintahan dalam kerajaanNya. Tetapi Yesus mau menekankan perihal melayani dan konsekuensi yang akan diterima sebagai pelayan. Yesus mau mengajarkan tentang konsep memimpin yang sesuai kehendak Allah yang berbeda dengan yang dilakukan pemimpin dunia ini.

Bicara pemimpin bukan sekedar bicara Raja atau presiden, menteri atau gubernur dan semua yang berhubungan dengan pemerintahan. Pendeta atau gembala, penatua atau ketua seksi, tetapi menyangkut semua bidang yang membutuhkan kepemimpinan.  Mulai bidang pemerintahan dunia, Agama, Sosial masyarakat, organisasi, sampai kepada keluarga. Jadi Ayah pemimpin bagi keluarganya, abang/kakak pemimpin bagi adik-adiknya, ketua-ketua seksi dalam berbagai organisasi dunia dan keagamaan sebagai  pemimpin dalam seksi yang mereka pimpin, penatua  bagi jemaat yang dilayaninya, pendeta bagi jemaat yang dilayaninya demikian seterusnya  sampai dibidang pemerintahan dunia.

Kalau kita bicara ‘pemimpin yang menjadi pelayan’, atau ‘pemimpin yang menghamba’ maka  saudara saya ajak sebentar  melihat tentang arti pelayan dalam Akitab. Alkitab menerjemahkan banyak arti terhadap pelayan seperti: Kej 9:26 : servant (KJV)=Hamba (TB) = Budak (LAI Sehari2)= Naposo (Toba); Kej 9: 25: =Babu= Servant of Servant (KJV)= Budak (LAI sehari2)=Jampurut (Toba)=Hamba yang paling hina(TB)=Jongos;  Bilangan 11:28: Servant=Abdi (TB); Ulangan 15:17: Servant (KJV)= Budak (TB)= Hatoban =Rom 6:20(Toba); Ulangan 29:2: Servant (KJV) = Official (CEV) Pegawai (TB)=Naposo (Toba); 2 Samuel 3:18: 1 Raja 10:4-5, 2 Raja 6:15;   Servant (KJV; CEV)= Pelayan (TB)=parhalado (TOBA); Mazmur 104:4: Servant (KJV)= Pelayan (TB)=parhalado(TOBA); Yesaya 61:6: Servant (CEV, TEV)=Pelayan (TB)=parhalado; Matius 8: 6: Servant(KJV)=Hamba (TB) = Naposo (TOBA); Matius 20: 26: Servant (CEV)= Minister (KJV) =Pangoloi di donganna (TOBA), Diakonos (Junani); Efesus 6: 21= Servant (TEV)=Parhobas =Pelayan (TB)=Minister (KJV); Ibrani 8:5-6 = Pangaradoti (TOBA), Minister (KJV) = Tugas Imam =(LAI Sehari-hari), Priest (TEV);

Jadi di dalam PL dan PB banyak pemakaian kata Hamba yang diterjemahkan dalam berbagai makna seperti berikut:

Servant=Hamba=Abdi=budak=babu=pelayan=pegawai=parhalado=pangurupi=naposo=hatoban= parhobas=pangaradoti, dst.

Mengingat dan memahami kembali arti dan makna HAMBA memberikan kita penghayatan yang lebih dalam akan tugas, fungsi dan tanggungjawab seorang HAMBA. Kekayaan makna ini sekaligus menjadi pagar/perisai sekaligus kemudi bagi seorang HAMBA/PELAYAN untuk tetap berdiri teguh akan panggilannya.

Pembiasan makna terjadi ketika seseorang memberontak (di dalam dirinya)  terhadap makna sebenarnya dari kata Pelayan. Ketidak jujuran terhadap diri sendiri menguatkan dan menegaskan pergeseran makna ini sehingga seseorang kehilangan arah tujuan  dari panggilannya yang sebenarnya. Jaman ini dan bahkan sebelumnya, PEMIPMPIN YANG MENGHAMBA/PELAYAN dalam konteks melayani Tuhan (baik pemerintahan maupun keagamaan) sudah banyak  bergeser bahkan berbalik dari makna-makna seperti dijelaskan diatas : dari Pelayan menjadi bos, dari hamba menjadi juragan, dari abdi menjadi tuan, dari hamba menjadi raja, dan sebagainya. Pergeseran ini menyebabkan fungsi dan panggilan menjadi kabur, sehingga apa yang dilayankan/dikerjakan terhadap orang-orang yang dilayani tidak berdampak sebagaimana diharapkan terhadap mereka.

Manusia selalu memikirkan tentang pemimpin dalam hal kedudukan dan jabatan. Tetapi Allah memikirkan tentang  sikap kerendahan hati dan melayani seorang pemimpin. Itu sebabnya Yesus berkata kepada kedua murid yang meminta ini: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta”. Karena ketika manusia bicara tentang jabatan maka cenderung bicara tentang jabatan dan kehormatan.  Tetapi Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan Kristiani bukan bicara jabatan, tetapi bicara melayani dan penderitaan demi yang dilayaninya.

Itu sebabnya Yesus kemudian melanjutkan pembicaraan itu dengan mengajarkan konsep melayani kepada murid-muridNya di ayat 42-45 dalam perikop ini. Kepemimpinan dunia berasal dari Allah. Maka seharusnya konsep kepemimpinan di dunia juga harus sesuai standart Allah. Namun dosa dan keinginan daging membuat para pemimpin di dunia ini membuat mandat yang Tuhan percayakan kepada mereka untuk memerintah rakyatnya bukan dengan konsep melayani lagi. Tetapi selalu berujung kepada keinginan untuk disembah, dihormati, ditakuti, dilayani, dimuliakan, diikuti semua kemauannya. Mereka lupa dari siapa mereka mendapatkan kepemimpinan itu dan kepada siapa mereka bertanggungjawab.  Mereka melupakan bahkan mengabaikan siapa yang seharusnya dimuliakan dan disembah. Konsep siapa yang melayani dan siapa yang dilayani tidak lagi dipahami dan dimengerti. Atau karena ambisi dan keinginan mereka dengan sadar membalik konsep melayani menjadi dilayani.

Karena itu Yesus berkata dalam ayat 42: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka”. Inilah fakta yang terjadi di dalam dunia sehingga dunia menjadi kacau balau. Banyak pemerintah yang tidak lagi menjadi pelayan rakyat. Semua sudah ingin menjadi raja dan bos. Rakyat tidak lagi dilayani dan digembalakan, tetapi mereka sibuk membangun puji-pujian dan hormat terhadap diri mereka sendiri dengan mengorbankan hak dan kepentingan yang dipimpinnya.

Kedatangan Yesus dan konsep pengajaranNya tentang kepemimpinan yang transformatif itu memberi harapan kepada manusia yang menderita dan teraniaya oleh para pemimpinnya, namun menjadi teguran dan batu sandungan bagi para pemimpin pada jaman itu. Itu sebabnya para pemimpin Jahudi baik pemimpin dibidang pemerintahan dunia maupun pemimpin dibidang keagamaan (seperti orang Farisi, saduki dan lain sebagainya) membenci Yesus dan ingin membunuhNya. Sebab Apa yang Yesus sampaikan bertentangan dengan hasrat dan ambisi manusia. Karena itu pemimpin yang tidak mau menjadi pelayanan, yang maunya dihormati, didahulukan, terkemuka, adalah  sama dengan orang Farisi yang mau membunuh Yesus kembali

Karena itu Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus untuk menunjukkan dan memberi teladan bagaimana pemimpin yang seharusnya. Bahwa pemimpin adalah pelayan. Yesus membalik pemahaman dunia tentang pemimpin. Kalau dunia berkata untuk menjadi besar harus punya kekuatan, kekayaan, berkuasa, supaya disegani dan ditakuti dan semua ucapannya dituruti. Tetapi Yesus berkata yang mau besar harus mau jadi pelayan (ay 43), untuk menjadi terkemuka harus menjadi hamba untuk semuanya (ay 44). Pemimpin bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani (ay 45). Ini semua Yesus contohkan diriNya sendiri dengan berkata bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi melayani bahkan sampai memberikan nyawanya bagi yang dilayaniNya (ay 45) dan itu dibuktikanNya.

Jadi sebagai seorang pengikut Kristus kita harus meneladani Yesus dalam hal kepemimpinan dan melakukan teladanNya. Untuk menjadi hamba yang setia kita harus memposisikan diri sebagai hamba seperti Yesus dimana Dia datang kedunia ini sebagai Hamba yang melayani dan hanya melakukan kehendak Bapa-Nya di sorga. Tidak ada yang dilakukan Yesus  selain melakukan kehendak Bapa di sorga Yohanes 6:38 “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku (TB).

Hamba yang setia akan bertanggungjawab dalam segala hal, bahkan jika kesalahan sekalipun yang diperbuat yang dipimpinnya, di dalam tanggungjawab dia akan berkata “hambalah yang salah bukan mereka, biarlah saya yang menanggung akibatnya”. Itu sebabnya tidak mudah untuk mengemban tugas sebagai pemimpin.  Ada banyak orang seperti Yakobus dan Yohanes  yang berambisi menjadi pemimpin  tetapi tidak tahu apa itu pemimpin dan bagaimana menjadi seorang pemimpin. Itu sebabnya kepemimpinan gaya dunia tidak membawa kemajuan dan kebaikan bagi yang dipimpinnya sebab keutamaan mereka adalah dirinya sendiri. Sedangkan kepemimpinan yang melayani yang Tuhan inginkan menempatkan jemaat atau orang yang dipimpinnya menjadi yang utama. Kalau konsep ini kembali ‘di bumikan’  baik ditengah-tengah pemerintahan dunia ini maupun di bidang keagamaan, maka sejahteralah rakyatnya. Kalau demikian  orang yang layak besar oleh pelayanannya akan dibesarkan, orang yang layak terkemuka dan dihormati oleh kepemimpinannya yang menghamba akan menjadi terkemuka. Karena itu Yesus berkata: “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”(Matius 23:12).

Saudaraku, lewat ibadah hari ini, mari kita kembali mimikirkan dan menghayati tema ini. Kita semua adalah pemimpin pertama bagi diri kita sendiri, pemimpin bagi orang lain di berbagai bidang, juga sekaligus kita semua adalah pelayan terhadap yang satu dengan yang lainnya. Mari saling mendahului melayani dan bukan dilayani. Mari menghargai orang yang melayani dengan tulus dan memberi kebebasan mereka untuk melayani sesuai dengan panggilan mereka. Mari berdoa buat semua pemimpin negara dalam berbagai tingkatan, semua  pemimpin agama dalam berbagai tingkatan supaya menjadi pemimpin yang melayani sesuai dengan kehendak Tuhan. Tidak ada pemimpin yang sempurna karena itu kita semua wajib berdoa bagi mereka.

Kiranya renungan ini meneguhkan dan menguatkan saudara. Majulah terus dalam Tuhan, Sehatlah jasmani dan rohani kita Tuhan Yesus memberkati.

Shalom,

 

Ev. Harles Lumbantobing

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..


 

 

Selasa, 06 Oktober 2020

STOP BERBUAT BAIK DAN PERDULI SAMA ORANG LAIN

 

STOP BERBUAT BAIK DAN PERDULI SAMA ORANG LAIN

2 samuel 9:1-13

 

Sebelum saya memberikan alasan tentang Judul/tema ini, mari kembali membaca kisah pemanggilan Mefiboset ke Istana Daud dalam 2 Samuel 9:1-13.

Perikop ini diangkat dalam tema PGI untuk ibadah minggu 27 September 2020 dengan tema “KEPEDULIAN TERHADAP DISABILITAS”. Dalam tulisan kali ini saya akan berbagi kembali nats firman Tuhan dalam perenungan saya dari Kisah tentang Raja Daud yang memanggil keturunan dari raja Saul yakni cucunya yaitu mefiboset anak dari Jonatan ke dalam istananya.

Kita melihat disini bahwa sebenarnya Ini bukan sekedar bicara tentang perhatian kepada seorang yang mengalami disabilitas, tetapi apa yang dibuat oleh Raja Daud merupakan bukti nyata dari kasih Tuhan yang hendak dinyatakannya kepada sesama. Pernyataannya jelas di dalam 2 samuel 9:3  Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah”. Bahwasanya tujuaan pemanggilannya dan pencariannya pada keturunan raja Saul yang masih hidup adalah supaya Daud menunjukkan kasih Tuhan kepada mereka. jadi sekali lagi, Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa tujuannya yang paling utama dalam melakukan kebaikan dan keperdulian kepada sesama adalah untuk menunjukkan kasih Tuhan. Benar di ayat 1 Daud teringat akan perjanjiannya dengan sahabatnya Yonatan ( 1 Samuel 20:15-17) supaya Daud tidak memutuskan kasihnya dari keturunan Yonatan sampai selama-lamanya. Tetapi pernyataan Daud jelas di ayat 1 menyatakan ‘keturunan Saul’ bukan ‘keturunan Yonatan’. Meskipun ketepatan yang tinggal setelah pencarian itu adalah anak sahabatnya Yonatan yaitu Mefiboset.

Sebagaimana Daud, Inilah yang menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang percaya bahwa yang paling utama dalam kehidupan kita di dalam melakukan praktek kasih dan perbuatan baik harus dengan motivasi menunjukkan kasih Tuhan kepada orang lain. Mengapa kita harus menunjukkan kasih Tuhan? dan bukan kasih kita?.  Jawabannya adalah karena memang kita sudah lebih dulu dikasihi oleh Tuhan. kita dari yang bukan apa-apa diangkatnya menjadi orang yang spesial. orang yang terpenjara oleh dosa menjadi orang yang terbebas dan terlepas dari dosa dan kematian. kita yang seharusnya ada di dalam maut Tuhan selamatkan  oleh pengorbanan anaknya di kayu salib. kita dipindahkan dari maut ke dalam kehidupan yang kekal di surga. Setiap hari kasih Tuhan tidak kurang bagi kita. Allah tidak ternah terlambat dan lalai dalam mengasihi dan memberkati kita.

Daud pada mulanya hanya seorang gembala dan yang paling kecil dari keluarganya. Abang-abangnya memandang dia sebagai adik kecil yang tidak diperhitungkan dalam banyak hal. Dia masih  terlalu muda dan dia bertugas hanya menjaga domba-domba ayahnya.  Kemudian dia juga bertugas mengantar makanan ke Abangnya. dia bukan siapa-siapa, tapi orang yang bukan siapa-siapa ini telah Tuhan jadikan jadi orang yang luar biasa. Tuhan memilihnya, mengasihinya dan melatihnya dan menjadikannya menjadi orang nomor satu di Israel. kasih yang luar biasa besar yang Tuhan nyatakan dalam kehidupan Daud sampai dia mencapai puncak  kesuksesannya di dunia ini adalah karena kasih, kuasa dan penyertaan Tuhan.

Oleh karena itu Daud menyadari bahwa semua yang dia dapatkan dan capai adalah karena kasih Tuhan. Sehingga ketika peperangan itu mereka menangkan dan musuh ditumpas oleh Raja Daud dimana sebelumnya Raja Saul dan keturunannya dibunuh oleh musuh, lalu Raja Daud kemudian memberikan perintah  kepada para pesuruh nya untuk mencari tahu apakah masih ada keturunan Raja Saul yang hidup. kalau dilihat dari kisah dan hubungannya dengan Raja sebelumnya yaitu raja Saul, Daud bisa saja membalas karena raja Saul itu kita ketahui berulang kali mencoba membunuh Daud tetapi Daud tidak membalasnya. Kita tahu ketika ada kesempatan Daud untuk membunuh raja Saul pun ia berkata bahwa "aku tidak boleh menjamah yang diurapi Tuhan". karena itu kita melihat bahwa hati dari pada Raja Daud ini merupakan hati yang benar-benar dipersembahkan untuk alat kemuliaan Tuhan. Daud memiliki hati yang diperbaharui dan hati yang selalu ingin membagikan kasih Tuhan itu kepada orang lain.

Apa yang dilakukan raja Daud dalam kisah ini adalah sesuatu perbuatan mulia. Keperdulian yang tulus. Sebab apalah untungnya lagi bagi Daud dengan memelihara hidup Mefiboset?  Dan dari Mefibosetpun tentunya tidak ada kontribusi yang bisa diharapkan oleh Daud. Tetapi itulah yang Tuhan inginkan dilakukan oleh setiap orang yang percaya kepadaNya yaitu senantiasa menaburkan kasih dan kepedulian kepada sesama tanpa memandang bulu.

Di sekitar kita setiap hari bisa kita barangkali menjumpai banyak orang-orang yang mengalami berbagai macam permasalahan dan pergumulan hidup yang membutuhkan kepedulian dan kasih dari orang lain.  Kita tidak pernah tahu seseorang itu punya masalah apa tidak, tetapi apa yang kita lihat dengan mata dan kita dengar dengan telinga, tentunya menantang kita untuk membuka kepedulian kepada orang lain. Kepedulian Tuhan kepada kita orang-orang yang berdosa yang tidak layak dan tidak sepatutnya hidup di dalam kasih Tuhan karena dosa-dosa yang kita lakukan, menjadi contoh dan teladan bagi kita.  Alkitab berkata Dia meninggalkan surga meninggalkan segala keagunganNya kemuliaanNya untuk menjadi manusia serupa dengan manusia dan bahkan sampai mati di kayu salib karena dosa-dosa kita. Inilah Kepedulian yang tanpa pamrih.  Karena itu saudara-saudara mari kita membuka mata dan telinga kita dan  membuka hati kita melihat sekitar kita apa yang bisa kita lakukan bagi orang lain, bagi lingkungan, bagi dunia ini, bagi bangsa dan bagi gereja.

Tetapi apapun yang akan kita perbuat itu, kepedulian atau perbuatan yang akan kita lakukan hendaklah semuanya didasari oleh motivasi seperti Raja Daud tadi hendak menunjukkan kasih Tuhan. Jadi bukan hendak menunjukkan siapa kita, menunjukkan kehebatan kita, kepintaran kita, kekayaan kita, tetapi hanya untuk menunjukkan kasih Tuhan dan Siapa Tuhan yang sudah menolong kita,  yang sudah menyelamatkan kita dan mengasihi kita. Inilah yang menjadi motivasi yang sepatutnya kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari berhubungan dengan sesama manusia dan berhubungan dengan ciptaan Lain di tengah-tengah dunia ini.  

Karena itu sebagai mana judul atau tema yang saya angkat diatas, STOP BERBUAT BAIK DAN PERDULI SAMA ORANG LAIN, adalah sebuah kejutan bagi kita untuk memikirkan dasar  dan motivasi kita dalam melakukannya. Ya kita semua sesungguhnya hanyalah menjadi perpanjangan tangan Tuhan dan saluran berkat untuk menunjukkan kasih itu kepada orang lain supaya orang lain melihat Tuhan dan percaya kepada Tuhan dari dan melalui kehidupan kita,  sehingga mereka juga mau mengikutiNya (Tuhan). Kiranya renungan ini menjadi berkat Bagi saudara.  Mari kita semua,  setiap hari kita berdoa dan mempraktekkan berbuat baik dan perduli sama orang lain walau hanya kepada seorang saja.

Di pagi hari kita bertanya, "kepada siapa saya akan menunjukkan kasih-Tuhan itu hari ini?"

Di malam hari kita bertanya: “Sudah kepada siapa saya menunjukkan kasih Tuhan itu hari ini?"

Shalom, salam kasih, salam sehat selalu dan Tuhan Yesus memberkati.

 

Ev. Harles Lumbantobing

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..


 

Sabtu, 03 Oktober 2020

RENUNGAN MINGGU, 4 OKTOBER 2020

 Minggu ke 17 Setelah Trinitatis 

SETARA DI HADAPAN TUHAN

 

Ev : Kejadian 2:18-25

Ep: 1 Korintus 11:8-12

 

Kejadian 2:18-25 (TB)

 2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki."

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

 

Shalom, selamat hari minggu buat semua saudara/i ku sekalian di dalam Kristus Yesus Tuhan kita. Puji Syukur kita ucapkan kepada Tuhan yang masih terus memberikan kita kekuatan, kesehatan, dan kesempatan untuk terus hidup menyaksikan  segala kemurahan Tuhan di dalam hidup kita.  Kebaikan Allah bagi kita tidak tergantung situasi dan keadaan kita, sebab pada hakekatnya Allah itu baik. Saat kita setia Allah itu baik, dan saat kita tidak setiapun Allah itu tetap baik.

Dalam ibadah minggu ini, Tuhan menyapa kita kembali dengan tema “SETARA DIHADAPAN TUHAN” yang didasarkan pada Kitab Kejadian 2:18-25. Setara  dalam hal ini dalam hal kesamaan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan. Juga menyangkut kesetaraan manusia dengan manusia yang lain. Kesetaraan ini menurut cara pandang Allah melalui FirmanNya, dan cara pandang Allah inilah yang juga harus manusia terapkan terhadap  sesamanya manusia. Laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda, berbeda dalam jenis kelamin, dan berbeda dalam urutan waktu, serta sumber penciptaannya.

Adam diciptakan lebih dahulu dari pada Hawa. Manusia (Adam)  adalah puncak penciptaan Allah, sehingga manusia adalah ciptaan Allah yang paling mulia.  Penciptaan Segala sesuatu sebelum manusia (Kejadian Pasal 1)  dikomentari Allah dengan perkataan “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Tetapi setelah manusia diciptakan (Adam dan Hawa) Allah berkomentar di Kejadian 1:31: “semuanya itu SUNGGUH AMAT BAIK”.

Proses menuju sungguh amat baik ini dijelaskan Alkitab lagi dalam Kejadian pasal 2.  Diawali dengan saat kabut naik ke atas bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi (Kejadian 2:6), lalu Allah menciptakan manusia (Adam) dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia itu sehingga manusia itu hidup. Adam diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Lalu Allah menempatkan Adam (sendiran) di taman Eden untuk mengusahakan dan mengelolanya. Lalu Allah melihat kesendirian ini sesuatu yang  tidak baik (Kejadian 2:18). Lalu Allah berinisiatif untuk mnciptakan penolong yang sepadan dengan dia (Adam). Langkah pertama Allah menciptakan lagi dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara, lalu dibawa kepada Adam untuk dinamai, dan selanjutnya hidup bersama-sama dengan Adam di dalam Taman Eden. Tetapi Alkitab menyaksikan demikian: “Tetapi  Adam tidak menjumpai bagi dirinya penolong yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:20), sebab memang bukan binatang yang Tuhan maksudkan dan rencanakan untuk pendamping Adam. Lalu kemudian Allah membuat Adam tertidur. Pada tahap inilah Allah menciptakan perempuan (Hawa). Bahannya bukan dari debu, tetapi tulang rusuk Adam, namun karena Adam terbuat dari debu tanah, maka bahan dasar Hawa juga adalah debu tanah. Tetapi keduanya sama-sama diciptakan Allah dengan tangan Allah sendiri, dan dihembuskan nafas kehidupan, dan diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.

Adam harus Tuhan tidurkan (kejadian 2:21). Ini mengandung makna penting bahwa Allah harus menentukan sendiri, merancang sendiri, serta membentuk sendiri pendamping bagi Adam yang sesuai dengan kehendak Allah (bukan kehendak Adam).  Allah tahu mana yang terbaik dan paling cocok dengan/bagi Adam sebagai pendampingnya. Tentunya  jika Adam tidak tidur dan diajak diskusi dengan Adam perihal wujud pendamping Adam, pasti akan merepotkan karena Adam belum punya gambaran selain dirinya dan binatang-binatang. Pasti akan merepotkan Allah dan tidak sesuai dengan rencana Allah.

Hal ini terbukti ketika Allah membawa Hawa kepada Adam maka komentar Adam adalah "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki’ (Kejadian 2:23).  Hal ini menunjukkan bahwa Adam sangat senang dan sanagat merasa cocok dan pas dengan perempuan itu. Juga hal ini menunjukkan  kehadiran Hawa (perempuan itu) sebagai pendamping Adam adalah inisiatif dan kehendak Allah. Proses dan kejadian ini  berlangsung pada hari keenam. Sehingga setelah semua ini selesai lalu Allah  berkata  di Kejadian 1: 31: “SUNGGUH AMAT BAIK.

Dari sejarah penciptaan  ini kita melihat beberapa hal bahwa:

  1. Laki-laki diciptakan lebih dahulu dari perempuan.

  2. Perempuan diciptakan dari Laki-laki (I Korintus  11:8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.)
  3.  Prempuan diciptakan karena laki-laki (I Korintus  11:9  Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki
  4.  Tujuan perempuan diciptakan adalah sebagai penolong yang sepadan bagi laki-laki
  5.  Dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan (1 Korintus 9:11-12)
  6.  Prinsip-prinsip lain dari Alkitab juga mengatakan bahwa suami (laki-laki ) adalah   kepala perempuan (Istri). Sehinga istri harus tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus (Efesus 5:22-24)

Dari prinsip ini kita bisa menemukan dasar-dasar perbedaan laki-laki dan perempuan pada saat penciptaan  yaitu tujuan penciptaan perempuan bagi Laki-laki.  Dari Kejadian 2: 18 kita melihat bahwa tujuan penciptaaan Hawa adalah sebagai penolong yang sepadang dengan Adam. Menolong Adam untuk mencapai tujuan dan kehendak Allah dalam penciptaan Adam. Hal tersebut mengandung arti bahwa Adam  (laki-laki) tidak baik hidup seorang sendiri, dan tidak akan sempurna dalam melaksanakan tugas yang Tuhan embankan kepada Adam. Adam memerlukan penolong yang bisa bernar-benar menolongnya mencapai kehendak Allah tetapi yang sekaligus sepadan dengan dia.

Sepadan dalam arti cocok, tidak harus serupa. Sepadan berarti bisa melengkapi kekurangan Adam sehingga Adam sempurna dalam melaksanakan mandat dari Tuhan.  Kalau sekedar penolong, Adam bisa ditolong oleh binatang-binatang yang Tuhan ciptakan yang Adam kuasai dan kelola. Namun binatang itu tidak sepadan dengan Adam.

Sepadan berarti ada kecocokan. Kecocokan ini harus menyangkut 3 hal. Yaitu sepadan dalam hal tubuh/jasmani, sepadan dalam hal jiwa, dan sepadan dalam hal roh.

Mari kita lihat ketiga hal ini:

Pertama, sepadan dalam hal jasmani/tubuh: Manusia harus berpasangan dengan manusia, Artinya gambar dan rupa Allah harus dengan gambar dan rupa Allah juga. Itu sebabnya Manusia tidak boleh menikah dengan ciptaan lain selain manusia. Tetapi ini juga bukan berarti harus Adam dengan Adam atau Hawa dengan Hawa. Sepadan disini bukanlah sama atau sebanding (sama-sama sejenis). Tetapi manusia Adam (laki-laki)  harus dengan manusia Hawa (Perempuan). Ini disebut sepadan (cocok) dalam hal jasmani.

Kedua, sepadan dalam hal jiwa: Hal ini menyangkut kecocokan (saling melengkapi) antara karakter dengan karakter, sifat dengan sifat.  Hal ini juga bukan berarti keduanya memiliki sifat dan karakter yang sama. Coba saudara bayangkan kalau keduanya (lsuami dan istri) sama-sama pemalu dan pendiam bagaimana kira-kira kehidupan keluarga mereka. Atau keduanya sama-sama pemarah dan gampang emosi, tidak terbayangkan bagaimana keadaana keluarga ini. Kecocokan atau kesepadanan disini menunjukkan bahwa karakter yang satu melengkapi karakter yang lain. Kelebihan karakter yang satu akan melengkapi kekurangan karakter yang lain. Dengan demikian keduanya sama-sama klop (istilah cocok).

Ketiga,  sepadan dalam hal roh. Hal ini menyangkut siapa yang disembah, siapa Tuhannya, beriman kepada siapa. Baik laki-laki dan perempuan harus sama-sama berTuhankan Kristus. Dengan demikian mereka memiliki Tuhan yang sama untuk disembah. Sehingga dengan demikian roh mereka juga akan bisa saling melengkapi dan saling mendukung dalam hal menyembah Allah yang sama.

Untuk itu, Allah sangat mengetahui siapa wanita pasangan yang sepadan bagi seorang laki-laki dan juga   laki-laki yang mana bagi seorang wanita yang sepadan dengan dia yang mana dia menjadi penolongnya. Inilah prinsip yang dikehendaki Tuhan. Sehingga Keterlibatan Tuhan sangat penting di dalam penyatuan dua insan ini. Dengan cara Tuhan, Tuhan  akan mempertemukan mereka berdua.

Dalam master plan-nya Allah Laki-Laki dan perempuan punya peran yang sama yaitu: "Beranakcucu dan bertambah banyak; memenuhi bumi dan menaklukkannya, serta  berkuasa (memelihara) atas bumi (Kejadian 1:26-28). Perintah ini disebut sebagai mandat budaya. Dalam hal ini Laki-laki dan perempuan memiliki tujuan yang sama. Sehingga untuk beranak cucu harus dilakukan bersama-sama, begitu juga dengan memenuhi bumi, berkuasa dan menaklukkannya juga dilakukan bersama-sama. Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam hal ini sebab Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan untuk tujuan yang sama. Allah memberikan mandat budaya ini bukan saat Adam masih seorang diri, tetapi setelah Hawa Tuhan ciptakan dari Adam dan bagi Adam.

Karena itu dalam mencapai tujuan Allah itu, laki-laki dan perempuan setara. Perbedaan laki-laki dan perempuan  saat ini  hanya kita temukan dicakupan keluarga. Ini menyangkut  peran suami dan istri dalam rumah tangga yang Tuhan telah resmikan. Laki-laki (suami) akan berperan sebagai kepala keluarga, imam, Suami dan ayah  dalam rumah tangga itu. Sedangkan perempuan (istri) berperan sebagai ibu rumah tangga, istri dan ibu dalam keluarga itu. Jika suami meninggal maka peran kepala keluarga,  imam dan ayah bisa digantikan si Istri. Demikian juga jika si istri meninggal, peran ibu rumah tangga dan ibu bisa digantikan suami.  Jadi peran ini bisa digantikan, tetapi  Suami tidak bisa menjadi  istri dan istri tidak bisa menjadi suami.  Istri akan membantu dan menolong suami mencapai semua peran itu, dan suami juga akan menolong istri untuk mencapai peran istri dalam keluarganya. Di luar ini  laki-laki dan perempuan adalah sama baik dibidang agama, negara, hukum, budaya, dan lain sebagainya terutama sama dihadapan Tuhan.

Untuk itu Alkitab menyatakan banyak ayat dalam Alkitab yang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, Berikut beberapa ayat Alkitab dalam PB yang menyatakannya:

Matius  12:50Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Kisah Para Rasul  2:17-18Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat”.

Matius 22:29-30: Yesus menjawab mereka: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!.  Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”.

Kisah Para Rasul  5:14Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan

Galatia  3:28Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”.

Dari beberapa ayat-ayat ini kita temukan bahwa Allah tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Semua sama dalam hal kasih karunia, dalam keselamatan, dalam pelayanan, dalam pujian dan penyembahan juga di dalam kekekalan.

Dalam realita hidup sampai saat ini juga kita bisa melihat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama di berbagai bidang. Banyak peran wanita saat ini dibidang yang dulunya itu hanya untuk laki-laki. Perempuan sudah banyak yang jadi pemimpin negara, pemimpin politik, pemimpin agama, pebisnis di berbagai bidang, pencari nafkah dalam keluarga, dan lain sebagainya. Namun, Kita juga tidak bisa menutup kenyataan bahwa masih banyak terjadi diskriminasi perempuan disekitar kita dan pembatasan hak perempuan yang secara sadar tidak sadar masih terjadi.

Hal-hal yang menghalangi kesetaraan sehingga membuat perempuan tidak bisa melakukan fungsinya dengan maksimal adalah  kebiasaan atau paradigma, atau budaya yang berkembang secara turun temurun. Hal-hal tersebut bisa kita lihat dalam kehidupan di masyarakat yang berkembang sudah sangat lama seperti: Tugas perempuan itu hanya di dapur, hanya di rumah, hanya melahirkan anak, hanya melayani suami. Dalam masyarakat Batak ada istilah yang melekat  yang akhirnya secara sadar tidak sadar menyebabkan para perempuan tetap tinggal dalam keadaan pola pikir yang lama atau tidak move on. Misalnya istilah: 

Pardijabu--> artinya Hanya dirumah melayani suami dan melahirkan anak

Pardihuta’ --> tidak boleh kemana-mana melihat dunia luar dan maju

Parsonduk bolon--> Hanya di dapur menyiapkan makanan

Istilah ini membuat paradigma “dirumah saja” (stay home) yang turun temurun dari jaman dahulu kala buat perempuan untuk tidak maju dan bergerak. Itu sebabnya sejak dahulu (bukan hanya suku Batak) perempuan tidak perlu disekolahkan, dan perempuan tidak punya hak bahkan untuk dirinya sendiri.

Injil (Kekristenan)  merubah paradigma salah ini.  Yesus membawa perubahan  bahwa sesungguhnya semua sama dihadapan Tuhan.  Wanita memiliki hak sebagaimana laki-laki di dalam banyak hal kecuali peran rumah tangga seperti saya jelaskan di atas. Istri tidak boleh menjadi suami dan suami tidak boleh menjadi istri. Selama keduanya masih hidup, masing-masing harus melakukan perannya dengan cara bertolong-tolongan.

Perhatikanlah prinsip ini: Perempuan yang bijaksana (istri) akan menolong  suaminya (bahkan berjuang) yang tidak bisa berperan sebagai kepala rumah tangga menjadi berhasil sebagai kepala rumah tangga. Istri yang bijaksana akan menolong suaminya (yang belum bisa berperan sebagai imam) untuk menjadi imam dalam keluarga. Istri yang bijaksana akan menolong suaminya yang belum sanggup memenuhi nafkah keluarga sampai nafkah mereka mencukupi. Intinya adalah perempuan (Istri) yang bijaksana adalah perempuan yang melaksanakan panggilan utamanya sebagai PENOLONG YANG SEPADAN  bagi suaminya sekaligus senantiasa mengingat prinsip-prisip dan tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan seperti saya jelaskan di atas.

Saudaraku, dalam Nas Firman Tuhan hari ini kita diajak untuk tidak memandang rendah siapapun sesama manusia, terutama perempuan. Kita sebagai umat percaya harus turut serta menggaungkan persamaan ini, dan tidak mempermasalahkan perbedaan gender lagi. Tuhan mengkehendaki kita semua melaksanakan peran masing-masing sebagaimana untuk Tuhan. Bersama-sama menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Segala sesuatu (sebelum manusia dicipta) Tuhan ciptakan  untuk manusia (laki-laki dan perempuan)  tanpa ada perbedaan. Semua manusia baik Laki-laki dan perempuan menikmatinya bersama-sama tanpa perbedaan. Semua berasal dari Tuhan. Jika Tuhan  tidak membeda-bedakan manusia maka kta juga harus melakukan yang sama.

Kiranya Renungan ini meneguhkan kita semua di dalam Tuhan. Tetap jaga dan lakukan  protokol kesehatan,  Selamat hari minggu, salam sehat selalu, Tuhan Yesus memberkati.

 

Shalom,

 

 

Ev. Harles Lumbantobing

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya  di Daftar... ARSIP..