Minggu, 16 April 2023

DIPERBAHARUI UNTUK HIDUP MENURUT KETETAPAN ALLAH

 

IBADAH MINGGU 16  APRIL 2023

Tema:

DIPERBAHARUI UNTUK HIDUP MENURUT KETETAPAN ALLAH

 

Ev: Yehezkiel 36:22-27

 

36:22 Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang.

36:23 Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa.

36:24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.

36:25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.

36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

36:27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

 

-----------------------------

            Shalom, selamat hari minggu saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Berita yang paling indah bagi kita minggu ini adalah berita Firman Tuhan yang merupakan kehidupan dan kekuatan dalam menjalani dan menghadapi hidup kita selama di dunia ini, dan minggu ini Firman Tuhan berbicara lewat kitab Yehezkiel 36:22-27 dengan mengambil tema DIPERBAHARUI UNTUK HIDUP MENURUT KETETAPAN ALLAH.

            Barangkali saudara pernah mendengar orang yang berkata kepada seseorang “percuma kau anak penatua” atau “percuma kau anak pendeta” atau tidak secara langsung tetapi diceritaan demikian dengan berkata “percuma dia itu anak penatua”, “anak guru”, atau “percuma kamu Kristen”  atau “percuma kamu anak seorang guru”, “seorang ini”, “seorang itu” dengan menunjuk kepada suatu identitas  yang dihormati, disegani di kalangan masyarakat. Atau juga sebuah ungkapan lain yang berkata “percuma kamu anak seorang jenderal”, “percuma orangtuamu seorang pendeta, penatua, tetua adat, guru” dan lain sebagainya, yang tujuannya bukan saja merendahkan orang yang sedang dihadapannya, tetapi secara langsung merendahkan dan menyatakan penghinaan dan ketidak berdayaan  ayah atau orangtua dari orang yang sedang dia bicarakan.

            Pernyataan ini muncul adalah akibat sikap dan perbuatan si anak itu yang tidak sesuai dengan nama besar atau nama baik, atau jabatan bahkan gelar yang di sandang oleh orangtuanya. Sehingga sikap itu menyebabkan munculnya ejekan, hinaan, bahkan menjadi bahan candaan atau olok-olokan dari orang lain. Sikap dan perbuatannya itu menghancurkan, melecahkan dan mencemari status yang disandang orangtuanya.

Saudara yang terkasih, hal tersebut juga muncul dalam kita Yehezkiel 36 ini, kita melihat di mana Tuhan berbicara kepada bangsa Israel dalam kemarahan dan kekecewaanNya tetapi juga sekaligus karena nama baikNya yang telah dihina, dilecehkan oleh bangsa-bangsa lain akibat sikap dan perbuatan umat Tuhan sendiri. Bahkan umat Tuhan sendiri menduakan Tuhan dengan menyembah berhala-berhala sembahan bangsa-bangsa di sekitar mereka.

Barangkali pada saat itu bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan itu berkata kepada bangsa Israel yang sudah terjajah, terbuang dan terserak itu: “Mana Tuhanmu?, “percuma kamu punya Tuhan”, “percuma Tuhanmu ada”, Tuhan mu itu sudah mati Dia tidak bisa menolong kalian”. “Percuma kamu punya Tuhan hidup kalian sekarang seperti ini, mana Tuhan yang kamu bilang besar dan dasyat itu” Dia sudah mati”. Percuma kalian punya Tuhan, hidup kaian saja payah dan parah seperti ini”, Sembahlah tuhan kami, ini tuhan yang benar, tinggalkan Tuhanmu itu” Tuhan mu itu tidak berdaya tidak sanggup menyelamatkan kalian”.  Atau Tuhanmu itu bukan Tuhan, masa Tuhan meninggalkan umatNya dan membiarkan kalian menjadi  tawanan-tawanan” dan lain sebagainya penghinaan dan pengejekan atau istilah sekarang penistaan terhadap Tuhan.

Saudara, nas Firman Tuhan minggu ini dilatarbelakangi oleh ayat sebelumnya terkhusus kita lihat di 20-21 yang berbunyi: “Di mana saja mereka datang di tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, dalam hal orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya.  Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang”. Lewat ayat ini kita sudah bisa membayangkan betapa cemarnya nama Tuhan yang kudus itu oleh  sikap dan perlakukan umatNya. Bahkan cara Tuhan untuk menghajar dan mendidik umatNya dengan menyerahkan mereka menjadi tawanan bangsa lain mereka gunakan juga untuk mengejek dan memfitnah Tuhan di hadapan umat Tuhan itu seakan-akan Tuhan tidak mengasihi mereka dan sudah  membuang mereka. Namun jelas kita lihat dalam sejarah Alkitab bahwa semua itu Tuhan lakukan untuk mendidik mereka dan menyiapkan mereka menjadi umat pilihan yang kuat, yang menjadi saksi dan cerminan segala kasih dan keadilan Tuhan, terkhusus bangsa pilihan yang akan menggenapi seluruh nubuatan Tuhan akan keselamatan dunia melalui kelahiran Mesias Yesus Kristus yang mulia.

Dalam perjalanan bangsa pilihan itu jelas terlihat bahwa bangsa itu tidak menguduskan nama Tuhan di dalam dirinya dan dihadapan bangsa-bangsa lain, bahkan mau meninggalkan dan menduakan Tuhan Allah yang sudah melepaskan dan membebaskan mereka dari perbuadakan Mesir. Inilah akar permasalahan sehingga mereka masuk dalam berbagai-bagai penderitaan, hukuman, peringatan yang mana semuanya itu merupakan jalan pemurnian dari Allah untuk kebaikan mereka.

Status umat pilihan sering mereka salahgunakan bahkan pandang enteng dengan status itu sehingga nama Tuhan dicemarkan oleh bangsa itu dan juga oleh bangsa-bangsa lain. Lalu  Allah bertindak atas nama diriNya sendiri dan bagi diriNya sendiri. Dalam nas ini kita ketahui dengan jelas bahwa Allah bertindak untuk membersihkan dan menguduskan namaNya sendiri. Itu sebabnya Tuhan kudus bukan karena manusia berkata “Allah kudus, kuduslah namaMu”, tetapi Allah itu kudus adanya apakah manusia mengucapkannya atau tidak. Sehingga jelasa bahwa Allah kita itu tidak perlu dibela dan tidak bisa dibela oleh siapapun juga.

Disini Allah mau menyatakan dan menunjukkan bahwa Dialah benar-benar Allah, dia bukan Tuhan yang mati dan Tuhan buatan tangan manusia, tetapi Tuhan yang hidup yang berkuasa atas segala-galanya. Hebatnya untuk memulihkan dan menguduskan namaNya dihadapan bangsa-bangsa yang menista diri-Nya bahkan umat sendiri yang meninggalkan Tuhan, Dia tidak perlu datang sendiri kebumi menyatakan diriNya kudus, atau mengutus malaikat atau siapa saja untuk menyatakan bahwa Dia kudus dan berkuasa.

Faktanya Pengudusan yang Allah lakukan adalah lewat manusia yang telah mencemarkan namaNya itu. Tuhan mau menunjukkan kuasaNya dengan cara yang tidak diduga dan tidak mungkin bagi manusia. Umat yang sudah rusak, yang mencoreng namaNya, yang mencemarkan kekudusan Tuhan, yang tidak menjadi saksi Tuhan bahkan sebaliknya meninggalkan Tuhan dengan berzinah dengan ilah-ilah lain, justeru itu yang Tuhan pakai untuk memuliakan  namaNya dan melakukan segala ketetapan dan hukum-hukum Allah.

Hal ini menunjukkan bagi kita bahwa manusia tidak akan pernah putus harapan selama masih ada Tuhan. Hidup kita yang rusak dan kotor masih bisa dipakai Tuhan untuk menjadi alat kemuliaanNya. Ini memberikan harapan bagi manusia yang berdosa bahwa Tuhan yang kita sembah itu Tuhan yang benar dan hidup dan berkuasa memperbaiki apa yang sudah rusak dan merubuhkan apa yang semula diaggap berguna dan menjadi kesombongan bagi manusia.

Bagaimana Allah melakukannya? Dalam renungan ini kita melihat bahwa Tuhan sendiri memberikan RohNya bukan berdasarkan prestasi/predikat manusia, tetapi justru saat manusia itu sedang dalam kondisi mengecewakan, Tuhan memakai mereka untuk alat kemulianNya. Ini kabar gembira bagi setiap hati yang hancur dan tertawan oleh ketidak berdayaan akibat dosa dan pelanggaran bahwa Tuhan berkenan memakai dan merubah kita untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan sekaligus menjadi keselamatan kita. Tuhan sendiri menguduskan namaNya dan memuliakan namaNya lewat umat pilihanNya. Umat pilihan itu menjadi cerminan Allah atau surat-surat Allah yang bisa dibaca semua orang. Hal ini senada dan selaras dengan surat Rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus dalam  2 Korintus 3:3 yang berbunyi: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.

Kita umat percaya adalah gambar dan rupa Allah.  Kita harus menjaga nama dan kekudusan Allah. Sebab siapa yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi mencemarkan nama Tuhan lewat sikap hidup yang tidak benar bahkan menduakan Tuhan, pasti akan menuai upahnya berdasarkan keadilan Tuhan. Hal itulah yang menyebabkan bangsa Israel di hukum dan dibuang ke Babel dan ke bangsa-bangsa lain karena mengabaikan ini.

Hal ini bisa juga terjadi saat ini, jika kita memandang rendah nama Tuhan dan status kita sebagai umat percaya  maka bisa saja Tuhan akan mendatangkan Babel ke dalam hidup kita. Babel saat ini bisa perwujudan dari kegersangan hidup, penderitaan hidup, kesulitan dalam berbagai bidang, penindasan, bahkan kekeringan rohani yang dialami manusia, sikap hidup yang semakin rusak, kesombongan,  bahkan ketersesatan akan pengajaran, akan tuhan dan juruselamat yang salah yang kita anggap sebagai juru selamat yang benar, keinginan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran tetapi selalu kembali ke jalan yang salah, semua itu bisa saja menjadi Babel-babel jaman ini yang Tuhan ijinkan masuk di dalam kehidupan kita.

Allah menginginkan kita memuliakan dan menguduskan nama Tuhan dalam kehidupan kita dan jadi kesaksian bagi bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. Namun jika kita mengabaikan ini, dan kepercayaan yang khusus diberikan kepada kita tidak bisa kita lakukan maka Tuhan sendiri bisa bertindak untuk menguduskan namaNya.

Dalam Nas Firman Tuhan ini kita melihat kebesaran dan kasih Tuhan dalam menegakkan kekudusan dan kebenaran Allah. Melalui umat yang rusak itu Allah bertindak dengan cara memberi hati yang baru kepada umat pilihanNya, Menjauhkan hati yang keras, Di beri hati yang taat, lalu Roh Kudus diberi untuk mendiami hati manusia yang sudah diperbaharuiNya itu. Jadi jelas karya pemulihan dan pengudusan ini mutlak karya Tuhan.

Itu sebabnya dengan tegas Firman Tuhan ini menjelaskan bahwa kita kudus bukan karena kita berkata kita kudus dan atas perbuatan dan usaha kita. Tetapi Tuhanlah yang menguduskan kita. Kita ibarat barang rusak yang di daur ulang menjadi perkakas yang baru dan berguna. Dalam ayat 27 nas ini jelas sekali terlihat bahwa sesungguhnya kita tidak mampu untuk melakukan kebenaran dan taat kepada semua ketetapan dan aturan Tuhan. Tetapi Tuhan sendiri  yang membuat kita mampu melakukannya. Dengan demikian bodoh rasanya jika kita merasa lebih rohani dari yang lain, lebih hebat dari yang lain, lebih kudus dari yang lain, lebih mengenal Tuhan dari yang lain, sebab semuanya itu adalah pemberian Tuhan kepada kita yang sudah rusak sebelumnya, bahkan kemungkinan kita jauh lebih rusak daripada orang lain tersebut.

Karena itu saudara-saudari yang terkasih, beberapa hal sebagai perenungan bagi kita dalam minggu ini  adalah:

 

1.      Bahwa setiap kita yang menyadari dan mengakui kebenaran Firman Tuhan ini, bahwa kita mengaku dulunya adalah orang yang sering mencemarkan nama Tuhan, dan sebagai orang yang berdosa dan sudah rusak bahkan yang paling rusak dari semuanya, sadarilah bahwa Tuhan sudah perkenankan kita untuk dibentuk, di daur ulang atau diperbaharui untuk menjadi alat kemuliaanNya, maka hendaknya kita rendah hati bahkan lebih lendah hati dari semua orang dan paling banyak bersyukur dan berbakti dari semua orang.

2.      Bersyukurlah bahwa ketika kita yang masih berdosa dan banyak gagal dalam hidup terutama sebagai saksi Kristus, ternyata  Tuhan masih mau berkenan kepada kita dan memperbaharui kita menurut ketetapan Allah sehingga kita menjadi terselamatkan dan memperoleh hidup.

3.      Lakukan Firman dan ketetapan Tuhan yang telah diberikannya kepada kita, serahkan diri untuk dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaanNya dan tulisan-tulisanNya yang hidup, kalau tidak peritiwa munculnya “Babel-BABEL baru” itu akan kita alami juga di dalam kehidupan kita.

4.      Pikullah salib kita yaitu  status sebagai anak-anak Allah atau umat pilihan yang harus menjadi saksi atas kebesaran Tuhan, Jangan merusak dan mempermalukan nama Tuhan dari sikap dan tindakan kita sehari-hari.

5. Segala yang Tuhan telah kerjakan ini dalam hidup kita yaitu  pembaharuan itu adalah supaya kita hidup menurut kehendak dan ketetapan Allah, karena itu mari berjalanlah dalam kehendakNya.

 

Kiranya renungan ini menguatkan dan meneguhkan iman kita. Sebagaimana bayi yang baru lahir yang haus akan susu yang murni (minggu Quasimodogeniti), demikianlah kita terus-menerus rindu untuk firman Tuhan yang menghidupkan. Mari teruslah belajar Firman Tuhan, teruslah berjalan bersama Firman Tuhan, dan menemukan rahasia-rahasia sorgawi dari setiap Firman yang Tuhan sampaikan. Selamat hari minggu, selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati.

 

Shalom,

 

Ev. Harles Lumbantobing.

 

KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya 

di Daftar... ARSIP.......

 

Minggu, 26 Maret 2023

LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN

Ibadah minggu 26 Maret 2023

Tema:

LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN

Ev: Yehezkiel  45: 9-17

Ep: Kisah Para Rasul 6:1-7

 

Yehezkiel  45: 9-17 (TB)

45:9 Beginilah firman Tuhan ALLAH: "Cukuplah itu, hai raja-raja Israel, jauhkanlah kekerasan dan aniaya, tetapi lakukanlah keadilan dan kebenaran; hentikanlah kekerasanmu yang mengusir umat-Ku dari tanah miliknya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

45:10 Neraca yang betul, efa yang betul dan bat yang betullah patut ada padamu.

45:11 Sepatutnyalah efa dan bat mempunyai ukuran yang sama yang ditera, sehingga satu bat isinya sepersepuluh homer, dan satu efa ialah sepersepuluh homer juga; jadi menurut homerlah ukuran-ukuran itu ditera.

45:12 Bagi kamu satu syikal sepatutnya sama dengan dua puluh gera, lima syikal, ya lima syikal dan sepuluh syikal, ya sepuluh syikal, dan lima puluh syikal adalah satu mina.

45:13 Inilah persembahan khusus yang kamu harus persembahkan: seperenam efa dari sehomer gandum dan seperenam efa dari sehomer jelai.

45:14 Tentang ketetapan mengenai minyak: sepersepuluh bat dari satu kor; satu kor adalah sama dengan sepuluh bat.

45:15 Seekor anak domba dari setiap dua ratus ekor milik sesuatu kaum keluarga Israel. Semuanya itu untuk korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian bagi mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

45:16 Seluruh penduduk negeri harus mempersembahkan persembahan khusus ini kepada raja di Israel.

45:17 Dan rajalah yang bertanggung jawab mengenai korban bakaran, korban sajian, korban curahan pada hari-hari raya, bulan-bulan baru, hari-hari Sabat dan pada setiap perayaan kaum Israel. Ialah yang akan mengolah korban penghapus dosa, korban sajian, korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel."

 

----------------

 

Shalom, selamat hari minggu dan selamat bersukacita saudaraku di dalam Tuhan. Bahagia rasanya bisa kembali menyapa saudara lewat renungan minggu ini yang bertemakan  “LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN” yang di dasarkan pada kitab Yehezkiel 45:9-17.  Kalau kita membaca perikop ini, kita seakan diberitahukan tentang kemarahan dan kecaman Tuhan atas perilaku raja-raja Israel. Sepertinya Tuhan sudah tidak tahan dengan tindakan tidak adil yang dilakukan raja-raja Israel kepada umat Tuhan (rakyat Israel). Dalam nas ini juga diceritakan tentang praktek korupsi para raja-raja dalam mempersembahkan persembahan yang rakyat hantarkan kepada Tuhan. Belum lagi tugas tanggungjawab raja yang seharusnya dilakukan raja menjadi dilakukan oleh orang lain untuk mengelak dari tanggungjawab.

Perilaku semena-mena dan semua praktek ketidakadilan itu telah menyebabkan kegeraman pada Tuhan dan yang mengalami kerugian adalah rakyat sendiri. Hukuman-hukuman selama ini Tuhan jatuhkan atas segala pelanggaran bangsa Israel rata-rata terjadi karena ketidaktaatan pemimpin-pemimpin atau raja-raja Israel.

Dalam konteks perikop hari ini, kita melihat bahwa raja yang seharusnya mengayomi rakyatnya malah mengusir rakyatnya dari tanahnya sendiri, memperdaya rakyatnya bahkan menipu rakyatnya demi kepentingan pribadi. Praktek eksploitasi rakyat demi keuntungan pribadi ini tentunya sangat menyakiti hati Tuhan. Kepercayaan yang Tuhan berikan kepada mereka untuk mengayomi rakyat, melayani dan memakmurkan rakyat malah tidak dikerjakan dengan benar.

Karena itu Tuhan menegur para pemimpin atau raja-raja itu. Selama ini Tuhan sudah memberi waktu, menahan diri, supaya mereka sadar dan tidak melakukannya. Tetapi mereka terus menerus melakukannya. Hal ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa Tuhan itu tidak tidur, tidak berdiam diri atas segala perlakuan dan ketidakadilan yang dialami seseorang di dalam hidupnya. Sesungguhnya Tuhan perduli dan tidak tutup mata atas segala hal yang dilakukan manusia. Penipuan dan ketidakadilan yang tersembunyi sekalipun dari hadapan manusia Tuhan bisa lihat. Karena itu Tuhan tidak bisa ditipu dan diperdaya oleh siapapun. Jika waktu Tuhan sudah tiba maka kebenaran dan keadilan akan muncul dan tidak seorangpun bisa menghambatnya.

Saudara, hancur dan runtuhnya suatu keadilan dalam suatu negara atau kerajaan, perkumpulan atau organisasi, gereja, lembaga dan sebagainya sering sekali akibat pemimpin yang tidak mengedepankan prinsip keadilan dan kebenaran. Keadilan mendorong memperlakukaan semua anggota sama rata dalam hak dan kewajiban dan kebenaran dalam hal  penerapan prinsip hubungan gembala degan domba-dombanya, dimana orientasi gembala adalah menjaga, merawat, dan memastikan domba-dombanya bertumbuh dengan sehat dan makmur, bukan sebaliknya rakyat ditindas pemimpin makmur.

Dalam nas firman Tuhan hari ini, praktek yang dilakukan raja-raja Israel itu bertentangan dengan prinsip di atas. Karena penyimpangan yang dilakukan raja-raja itu Tuhan berkata dengan tegas ’cukuplah itu’. Artinya jangan teruskan lagi perbuatan itu kalau mau hidup yang lebih baik dan masa depan yang penuh harapan. Tiga hal pertama yang Tuhan minta dan tegaskan kepada mereka yaitu: pertama menjauhkan kekerasan dan aniaya kepada rakyat, kedua melakukan keadilan dan kebenaran, ketiga jangan mengusir umat Tuhan dari tanahnya sendiri. Tiga hal ini merupakan praktek ketidakadilan yang mereka lakukan kepada rakyatnya.

Tetapi ada satu hal lagi yang Tuhan tegur kepada raja-raja itu tentang praktek persembahan dan mengelola persembahan itu kepada Tuhan. Tuhan mengatakan bahwa semua alat ukur mereka harus ditera ulang (dilakukan standarisasi) supaya ukuran di alat ukur harus sama dengan bahan yang diukur. Misalnya kalau alat timbangan terbaca 1 kg maka beras yang ditimbangpun harus benar-benar 1 kg, bukan terbaca 1 kg tapi faktanya hanya 9 ons. Atau terbaca 1kg ternyata sudah lebih 1 kg. Praktek penipuan dan korupsi juga terjadi dalam alat-alat ukur yang mereka pakai demi memperkaya diri sendiri. Ada kewajiban rakyat itu untuk memberikan persembahan mereka kepada Tuhan dengan menghantarkan persembahan-persembahan lewat kerajaan. Tetapi ketika mereka misalnya diminta memberikan 1kg beras, maka di alat timbangan kerajaan terbaca 9 ons saja atau lebih sedikit sehingga rakyat harus menambahinya kembali supaya terbaca 1kg. Demikian seterusnya praktek pemerasan itu.

Tetapi bagian untuk dipersembahkan untuk Tuhan juga mereka korupsi. Mereka tidak memberikan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, malah mengorupsi apa yang seharusnya menjadi bagian Tuhan. Jadi korupsi terhadap rakyat dan juga korupsi terhadap Tuhan. Hal-hal ini lah yang menyakiti hati Tuhan sehingga Tuhan memberikan peringatan keras dan perintah supaya mereka berubah dan tidak melakukannya kembali. Dalam hal ini Tuhan mau mengatakan supaya memberikan persembahan kepada Tuhan dengan timbangan dan ukuran yang benar. Tera kembali semua alat ukur supaya tidak terjadi kecurangan dan ketidakadilan.

Penyalahgunaan jabatan selama ini juga Tuhan koreksi. Bahwasanya mulai saat ini Raja sebagai pemimpin bangsa itu yang sudah diberi tugas untuk menanggungjawabi semua praktek persembahan supaya melakukannya dengan benar. Hal ini disampaikan dalam ayat 17 perikop ini. Persembahan-penyembahan harus dikembalikan kepada porsinya yang benar. Peran serta raja harus dikembalikan kepada yang sebenarnya.

Saudaraku, kalau kepala rusak maka rusaklah semua tubuh. Kalau pemimmpin atau raja rusak maka rusaklah rakyatnya. Ikan busuk dimulai dengan kepala lalu sampai kepada ekor. Demikian juga dalam segala kepeminpinan yang ada. Perlunya pemimpin yang adil dan berjalan dalam kebenaran. Apakah itu di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan, lembaga, gereja, bahkan negara. Apapun kondisi dan perilaku  pemimpin akan menunjukkan kondisi dan keadaan rakyatnya. Karena itu penting sekali menjaga marwah kepemimpinan di segala bidang.

Bagaimana supaya seseorang bisa menjadi pemimpin yang amanah dalam kepemimpinannya?. Prinsip keadilan tidak didapat secara spontan. Tetapi seorang sukses di dalam kepemipinan  ketika dia sendiri berdiri diatas keadilan yang paling mendasar. Keadilan yang paling mendasar ini maksud saya adalah bahwa keadilan tidak hanya menyangkut hal-hal lahiriah saja, tetapi juga hal-hal rohaniah.

Kita terdiri atas unsur jasmani (tubuh fisik) dan rohani (jiwa dan roh). Ketidakseimbangan yang jasmani dengan yang rohani akan menimbulkan banyak masalah dalam kehidupan seseorang. Sering sekali seseorang bersusah payah mengejar kebutuhan yang  jasmani bahkan tidak megenal waktu, cuaca, dan situasi. Namun tidak bergiat dan berniat untuk memperhatikan kebutuhan yang rohani. Mengutamakan kebutuhan tubuh yang satu dan mengabaikan kebutuhan tubuh yang lain. Yesus pernah berkata bahwa manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Artinya kebutuhan jasmani memang perlu tetapi kita hidup bukan dari situ saja tetapi juga dari Firman Allah. Hal ini menegaskan bahwa yang rohani mendorong  yang jasmani, yang rohani menginspirasi yang jasmani dan yang rohani menghidupkan yang jasmani.

Karena itu adillah kepada diri sendiri, dengan demikian kita akan memperoleh kekuatan dan kemampuan untuk menjadi adil bagi suami/istri, bagi anak-anak, gembala gereja dengan jemaatnya, pemimpin pemerintahan dengan rakyatnya, pemimpin perusahaan dengan karyawan dan bawahannya bahkan juga adil terhadap Tuhan kita. Jangan kita berkata Tuhan di dalam mulut tetapi dalam praktek Dia (Tuhan) tidak menjadi tuan dalam kehidupan kita.

               Di jaman saat ini terlalu banyak praktek ketidakadilan yang kita lakukan dalam kehidupan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Ada suami/istri  yang ramah dan lembut bertutur sapa dengan istri/suami orang lain tetapi dengan pasangannya sendiri selalu kasar dalam perkataan dan jauh dari kata mesra. Ada suami yang royal kepada teman-teman dan sahabat-sahabatnya di luaran sana, tetapi kepada istri dan anak-anaknya banyak pertimbangan. Ada anak-anak yang hormat kepada orangtua yang lain, tetapi kepada ayah/ibu nya selalu kasar dalam menjawab, sebaliknya ada orangtua yang tidak memberikan hak anaknya untuk mengenal Tuhan lewat ibadah sekolah minggu tetapi tidak mau mengantarkannya ke gereja dengan banyak dalil dan alasan. Anak-anak yang perlu mendapatkan pembinaan iman dalam masa remaja atau pemuda tetapi tidak diarahkan dan diperhatikan. Mereka punya hak mendapat kasih sayang seorang ayah atau ibu tetapi tidak diberikan malah waktu orangtuanya habis untuk dunia luar. Jemaat yang butuh diperhatikan dalam banyak hal pergumulan namun tidak diberikan dan digembalakan dengan baik. Pilih-pilih kasih terhadap jemaat dalam suatu gereja, anak-anak dalam keluarga, anggota-anggota dalam organisasi dan banyak lagi praktek ketidakadilan disekitar kita  yang harus kita koreksi dan perhatikan sebagai pengikut-pengikut Kristus.

             Saudara dalam minggu JUDIKA hari ini yang berarti “Berilah keadilan kepadaku ya Allah” dengan tema: LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN mengajarkan kita 5 hal: 

  1. Ketika kita mengalami praktek ketidakadilan dalam hidup kita percayalah Allah maha melihat dan perduli. Pada waktunya Tuhan akan datang bersegera untuk menolong kita. Hal utama yang perlu kita lakukan yang menjadi bagian kita adalah kekonsistenan iman dan kepercayaan kita kepadaNya. Jangan ada kuasa lain atau kekuatan lain yang kita andalkan di dunia ini dalam menghadapi semua pergumulan itu. 
  2. Sebagai seorang pemimpin dalam konteks apa saja (pemimpin atas diri sendiri, pemimpin rumahtangga, gereja, dan lain sebagainya) ingatlah tetaplah bersikap adil terhadap semua yang dipimpin dan jangan memperalat dan menganiaya mereka demi kepentingan sendiri sebab Tuhan tidak tidur dan dia akan menjadi lawan kepada setiap pemimpin yang tidak adil. Berilah apa yang menjadi hak mereka dan jangan menuntut mereka lebih dari kewajiban mereka.  
  3. Tidak hanya pemimpin, rakyat atau yang dipimpinpun perlu berlaku adil kepada semua yang memimpin mereka. Berilah penghormatan kepada para pemimpin, dan patuhilah mereka. Sebab jika kita mengharapkan hak kita sebagai yang dipimpin maka kita juga wajib memberikan kewajiban-kewajiban kita sebagai anggota. Dengan demikian prinsip keadilan akan terpelihara dengan baik.  
  4. Selain menerapkan prinsip keadilan dan kebenaran kepada orang lain, adil kepada diri sendiri (keseimbangan jasmani dan rohani) merupakan dasar dari praktek keadilan kepada orang lain. 
  5. Demikian juga keadilan kepada Tuhan dalam hal penyembahan-persembahan yang seharusnya dan sepantasnya harus kita berikan kepada Tuhan di dalam kebenaran. Jangan menipu Tuhan dengan persembahan yang curang, persembahan yang tidak tulus, tidak pantas, dan bukan yang terbaik. Belajar dari kisah Kain dan Habil menolong kita untuk adil di dalam memberikan persembahan kepada Tuhan.

Kiranya renungan ini menolong dan memberkati kita semua untuk menjadi pelaku-pelaku firmanNya di tengah-tengah kehidupan kita. Selamat hari minggu, Selamat berjalan bersama Tuhan dan Tuhan Yesus memberkati.

 

Shalom,

 

Ev. Harles Lumbantobing


KLIK  ARSIP  untuk melihat tulisan lainnya 

di Daftar... ARSIP.......